Davina Magdalena Zacharias
00000008554
Pertemuan I
1. Hal-hal penting apa sajakah yang diulas dalam pertemuan
pertama?
Dalam pertemuan pertama kemarin, Pak Suhendra mengajarkan
kita tentang konsep levels of learning, yaitu tentang tahap-
tahap seorang manusia belajar.
Tahap pertama dimulai dari remembering yaitu proses
mengingat pengetahuan yang baru saja kita dengarkan tapi
kita
belum memahami mengenai pengetahuan tersebut.
Yang kedua understanding tahap dimana seseorang mulai
memahami makna,maksud, ataupun penggunaan dari pengetahuan
yang tadi dia ingat.Yang
ketiga Applying, setelah tau dan paham barulah kita bisa
menggunakan pengetahuan tersebut.
Yang keempat Analyzing, yaitu tahap dimana seseorang mulai
melihat hasil pikiran dan pekerjaannya sudah benar atau
masih
ada yang salah.Yang kelima Evaluating, setelah kita selesai
menganalisis barulah
kita bisa menarik kesimpulan dari apa
yang sudah kita pelajari.Yang
terakhir Creating, kita membuat sesuatu
yang baru atau berinovasi dari pengetahuan yang sudah kita
ingat,pahami,gunakan,analisis dan evaluasi.
2. Apa hal-hal menarik dan penting bagi saya pada pertemuan
kemarin dan apa alasannya?
Hal menarik di pertemuan kemarin bagi saya adalah ketika 1
kelas mendiskusikan tentang pernyataan kritis dan kreatif
bertentangan itu benar atau salah. Karena dari sini kita
bisa
belajar bahwa ternyata kita sering salah mengartikan arti
kritis
itu sendiri malahan kita mengartikannya dari pengertian kata
logis. Dan dari sini saya juga bisa memahami akhirnya bahwa
kritis dan kreatif itu tidak bertentangan atau bertabrakan
melainkan merupakan satu kesatuan. Orang yang kritis
terhadap
keadaan sekelilingnya akan bisa menciptakan sesuatu yang
kreatif.
Pertemuan II
1. Hal – hal penting yang diulas dalam pertemuan ini adalah
bahwa
dalam berpikir kritis, kita harus bisa melihat sesuatu dari
sudut
pandang yang berbeda- beda. Jangan hanya melihat dari posisi
ataupun sudut pandang kita. Karena jika kita hanya melihat
dari
sudut pandang kita sendiri itu disebut subjektif dan berpikir kritis
itu bukan subjektif tetapi objektif.
2. Hal menarik bagi saya di pertemuan kemarin adalah, kita
diberi
kasus yang mengharuskan kita untuk berpikir kritis. Dari
sini kita
belajar, orang yang kritis harus bisa melihat dari banyak
sudut
pandang. Karena kita diberi kasus dan disuruh berdiskusi
dengan
kelompok untuk memecahkannya, kuliah jadi serasa lebih asyik
dan santai karena rasanya seperti bermain game detektif.
Pertemuan III
Pertayaan Refleksi
1. Hal-hal penting yang disampaikan pada pertemuan kemarin adalah,
pengertian dari beberapa jenis kalimat. Yaitu, kalimat empiris (kalimat yang
berdasarkan fakta), kalimat evaluatif (kalimat yang isinya berupa penilaian
subjektif), dan kalimat analitik (kalimat yang didasarkan dari analisa)
2. Hal yang menarik adalah, kita diberikan beberapa contoh kalimat
lalu kita disuruh menentukan kalimat tersebut termasuk dalam kalimat apa.
Selain itu, mahasiswa juga dijelaskan apa perbedaan logis dan masuk akal.
Pernyataan yang masuk akal belum tentu logis, karena pernyataan yang masuk akal
hanya pengetahuan umum yang bisa diterima panca indera dan sifatnya terkadang
hanya subjektif (tidak semua orang setuju dengan pernyataannya). Sedangkan,
pernyataan yang logis sudah pasti masuk akal karena pernyataan yang logis ada
pedoman hukum-hukum berpikirnya.
Berpikir
Kritis
1. Mahasiswa
ilmu komunikasi sangat perlu untuk belajar berpikir kritis dan kreatif karena,
jika tidak bisa berpikir kritis dan kreatif apa yang mau disajikan oleh mahasiswa
ilmu komunikasi. Sedangkan pekerjaan di bidang komunikasi semuanya memerlukan
kemampuan berkata-kata yang baik, logis, dan cerdas dan semua itu hanya bisa
dicapai dengan berpikir kritis dan kreatif. Karena tanpa pemikiran yang kritis,
omongan yang disampaikan hanya akan menjadi omongan kosong yang tidak bermutu.
Tidak hanya kritis, jika hanya kritis saja namun cara penyampaiannya tidak
menarik, orang lain akan malas untuk mendengar/membaca gagasan kita.
2. Jurnalist: pekerjaan seorang
jurnalist adalah meliput berita. Dalam meliput berita, seorang jurnalist harus
bisa berpikir secara kritis agar bisa membuat berita yang benar-benar sesuai
fakta dan objektif. Tidak hanya berdasar opini ataupun isu-isu yang belum tentu
benar. Selain itu, kemampuan berpikir kreatif juga sangat penting bagi seorang
jurnalist agar berita yang ditulisnya bisa dikemas secara menarik dan membuat
orang tertarik untuk membacanya.
Public Relation: Pekerjaan seorang public relation adalah,
menangani komplain-komplain yang masuk ke perusahaan, dan juga bagaimana
mengubah berita/imej negatif menjadi berita/imej yang positif tanpa berbohong.
Dalam hal ini, kemampuan berpikir kritis dan kreatif sangat penting bagi
seorang PR. Seorang PR harus bisa kritis dalam mendengarkan masalah yang didapat
perusahaannya, setelah itu barulah dia bisa memecahkan masalahnya dan
membangkitkan
kembali imej perusahaannya
yang telah jatuh dengan cara yang kreatif.
Pertemuan IV
Pertayaan Refleksi
1. Pada pertemuan
minggu kemarin, hal penting yang diajarkan adalah, kita semua
kembali
mengevaluasi definisi-definisi 3 pernyataan yang dipelajari minggu lalu.
2. Hal menariknya
adalah, mayoritas ternyata salah mengerti definisi dari pernyataan
analitik. Sehingga
kemarin banyak yang berdiri didepan karena salah menjawab,
termasuk saya.
Jadi kemarin kita kembali diberikan tugas yang berhubungan dengan
pernyataan
evaluatif,empiris,dan analitik agar memperdalam pengertian kita tentang
pernyataan-pernyataan
tersebut.
Tugas Analisis Berita
Berita pertama.
Pencurian yang
dilakukan warga Jalan Griya Prasetya Selatan VIII Pandean
Lamper tanggal 10
September lalu sekira pukul 11.00 siang. Saat itu pelaku
melihat sekelompok
kambing yang digembala di bantaran sungai Kanal Banjir
Timur.
Kemudian Sender mengincar satu kambing yang sedang makan rumput.
(http://news.detik.com/berita-jawa-tengah/3026937/ngebut-pencuri-ternak-jatuh-dari-motor-dan-kambingnya-mati)
Komentar: paragraf
diatas termasuk dalam paragraf empiris. Karena,
dalam paragraf
tersebut melibatkan panca indera. Seperti dalam kalimat
kedua terdapat
kata “melihat” yang berarti pernyataan tersebut dapat
dibuat berdasarkan
hasil dari indera penglihatan.
Berita ke-dua
Tetapi pemuda
sekarang beda dengan pemuda dulu. Sebagian besar pemuda
sekarang lebih
cuek, selfish, dan lebih mementingkan diri sendiri. Berkumpul
dan bergabung
dengan sebuah komunitas yang baik dan benar akan sangat
membantu.
(http://news.detik.com/berita-jawa-timur/3027215/nyc-dan-kkr-aog-untuk-indonesia-yang-lebih-baik)
Komentar: paragraf
diatas termasuk paragraf evaluatif. Paragraf diatas
menyatakan “pemuda
sekarang lebih cuek,selfish...” yang mengandung
unsur
subjektivitas, karena tidak semua pemuda sekarang cuek atau
selfish dan juga
tidak semua orang setuju akan pendapat tersebut.
Berita ke-tiga
"Kita akan
kirim foto anak ini ke Polres, supaya dibantu untuk mencari orang
tua anak
ini," ungkap AKBP Bastoni Purnama, saat menjenguk kondisi bayi
malang tersebut di
Rumah Sakit UMUM Daerah (RSUD) Blambangan,
Banyuwangi, Kamis
(24/9/2015).
(http://news.detik.com/berita-jawa-timur/3027602/polisi-koordinasi-dengan-polda-jabar-cari-pembawa-bayi-cahya)
Komentar: paragraf
tersebut termasuk paragraf analitik. Karena, dalam
paragraf tersebut
terdapat pernyataan “Kita akan kirim foto anak ini ke
Polres supaya
dibantu mencari orang tua anak ini”, daridulu orang-orang
juga sudah tahu
jika mencari orang maka jalan keluarnya adalah menghubungi polres.
Pernyataan
empiris: pernyataan yang didasarkan pada fakta, dan bisa dibuktikan
dengan panca
indera baik lewat penglihatan, penciuman,pendengaran,perasa, dan peraba
Pernyataan
evaluatif: pernyataan yang berasal dari opini seseorang, dan
mengandung unsur
subjektivitas sehingga kebenarannya tidak pasti.
Pernyataan
analitik: pernyataan yang didasarkan dari analisa yang sudah
dibuktikan sejak
dulu dan semua orang sudah tau kebenarannya. Benar atau
tidak suatu
pernyataan pantas disebut pernyataan analitik, dilihat dari makna
kata itu sendiri.
Seperti: Bumi itu bulat.
Pertemuan V
1. Hal penting yang kita pelajari di pertemuan kemarin adalah,
kita
mengkritisi sebuah
kasus melalui 8 tahap berpikir kritis
2. Melalui 8 tahap
tersebut, kita jadi lebih kritis dalam membaca sebuah
berita. Karena
selama ini, kita biasanya hanya membaca sambil lalu saja
dan menerima
mentah-mentah semua yang ditulis oleh penulis berita.
padahal terkadang
penulis juga bisa salah dan juga bisa subjektif. Seperti
kemarin kasus Rudi
Rubiandini, kalau kita baca secara cermat penulis
seperti
menggeneralisasikan bahwa semua pejabat yang terlihat “rendah
hati” itu pasti
diam-diam korupsi seperti Rudi Rubiandini padahal tidak
semuanya seperti
itu.
Pertemuan VI
1. Hal yang penting dipelajari di pertemuan kemarin adalah,
para mahasiswa belajar
mengenai argumen valid dan argumen tidak valid
2. Dari pertemuan kemarin, mahasiswa jadi bisa membedakan
mana argumen yang
valid dan mana argumen yang tidak valid. Argumen yang valid
adalah argumen yang,
konklusi dan premisnya bisa semua sala, dan jika premisnya
ada yang salah bisa saja
konklusinya benar. Sedangkan argumen tidak valid adalah,
argumen yang jika ada
kemungkinan lain dari sebuah argumen tersebut (tidak jelas
argumennya benar atau
salah) maka argumen tersebut berarti tidak valid.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar