Minggu, 11 Oktober 2015

Davina M.Z.

Davina Magdalena Zacharias
00000008554
Pertemuan I
1. Hal-hal penting apa sajakah yang diulas dalam pertemuan
pertama?
Dalam pertemuan pertama kemarin, Pak Suhendra mengajarkan
kita tentang konsep levels of learning, yaitu tentang tahap-
tahap seorang manusia belajar.
Tahap pertama dimulai dari remembering yaitu proses
mengingat pengetahuan yang baru saja kita dengarkan tapi kita
belum memahami mengenai pengetahuan tersebut.
Yang kedua understanding tahap dimana seseorang mulai
memahami makna,maksud, ataupun penggunaan dari pengetahuan
yang tadi dia ingat.Yang
ketiga Applying, setelah tau dan paham barulah kita bisa
menggunakan pengetahuan tersebut.
Yang keempat Analyzing, yaitu tahap dimana seseorang mulai
melihat hasil pikiran dan pekerjaannya sudah benar atau masih
ada yang salah.Yang kelima Evaluating, setelah kita selesai
 menganalisis barulah kita bisa menarik kesimpulan dari apa
 yang sudah kita pelajari.Yang terakhir Creating, kita membuat sesuatu
yang baru atau berinovasi dari pengetahuan yang sudah kita
ingat,pahami,gunakan,analisis dan evaluasi.

2. Apa hal-hal menarik dan penting bagi saya pada pertemuan
kemarin dan apa alasannya?
Hal menarik di pertemuan kemarin bagi saya adalah ketika 1
kelas mendiskusikan tentang pernyataan kritis dan kreatif
bertentangan itu benar atau salah. Karena dari sini kita bisa
belajar bahwa ternyata kita sering salah mengartikan arti kritis
itu sendiri malahan kita mengartikannya dari pengertian kata
logis. Dan dari sini saya juga bisa memahami akhirnya bahwa
kritis dan kreatif itu tidak bertentangan atau bertabrakan
melainkan merupakan satu kesatuan. Orang yang kritis terhadap
keadaan sekelilingnya akan bisa menciptakan sesuatu yang
kreatif.
Pertemuan II
1. Hal – hal penting yang diulas dalam pertemuan ini adalah bahwa
dalam berpikir kritis, kita harus bisa melihat sesuatu dari sudut
pandang yang berbeda- beda. Jangan hanya melihat dari posisi
ataupun sudut pandang kita. Karena jika kita hanya melihat dari
sudut pandang kita sendiri itu  disebut subjektif dan berpikir kritis
itu bukan subjektif tetapi objektif.

2. Hal menarik bagi saya di pertemuan kemarin adalah, kita diberi
kasus yang mengharuskan kita untuk berpikir kritis. Dari sini kita
belajar, orang yang kritis harus bisa melihat dari banyak sudut
pandang. Karena kita diberi kasus dan disuruh berdiskusi dengan
kelompok untuk memecahkannya, kuliah jadi serasa lebih asyik
dan santai karena rasanya seperti bermain game detektif.
Pertemuan III
Pertayaan Refleksi

1.      Hal-hal penting yang disampaikan pada pertemuan kemarin adalah, pengertian dari beberapa jenis kalimat. Yaitu, kalimat empiris (kalimat yang berdasarkan fakta), kalimat evaluatif (kalimat yang isinya berupa penilaian subjektif), dan kalimat analitik (kalimat yang didasarkan dari analisa)
2.      Hal yang menarik adalah, kita diberikan beberapa contoh kalimat lalu kita disuruh menentukan kalimat tersebut termasuk dalam kalimat apa. Selain itu, mahasiswa juga dijelaskan apa perbedaan logis dan masuk akal. Pernyataan yang masuk akal belum tentu logis, karena pernyataan yang masuk akal hanya pengetahuan umum yang bisa diterima panca indera dan sifatnya terkadang hanya subjektif (tidak semua orang setuju dengan pernyataannya). Sedangkan, pernyataan yang logis sudah pasti masuk akal karena pernyataan yang logis ada pedoman hukum-hukum berpikirnya.
Berpikir Kritis
1.      Mahasiswa ilmu komunikasi sangat perlu untuk belajar berpikir kritis dan kreatif karena, jika tidak bisa berpikir kritis dan kreatif apa yang mau disajikan oleh mahasiswa ilmu komunikasi. Sedangkan pekerjaan di bidang komunikasi semuanya memerlukan kemampuan berkata-kata yang baik, logis, dan cerdas dan semua itu hanya bisa dicapai dengan berpikir kritis dan kreatif. Karena tanpa pemikiran yang kritis, omongan yang disampaikan hanya akan menjadi omongan kosong yang tidak bermutu. Tidak hanya kritis, jika hanya kritis saja namun cara penyampaiannya tidak menarik, orang lain akan malas untuk mendengar/membaca gagasan kita.
2.      Jurnalist: pekerjaan seorang jurnalist adalah meliput berita. Dalam meliput berita, seorang jurnalist harus bisa berpikir secara kritis agar bisa membuat berita yang benar-benar sesuai fakta dan objektif. Tidak hanya berdasar opini ataupun isu-isu yang belum tentu benar. Selain itu, kemampuan berpikir kreatif juga sangat penting bagi seorang jurnalist agar berita yang ditulisnya bisa dikemas secara menarik dan membuat orang tertarik untuk membacanya.
Public Relation: Pekerjaan seorang public relation adalah, menangani komplain-komplain yang masuk ke perusahaan, dan juga bagaimana mengubah berita/imej negatif menjadi berita/imej yang positif tanpa berbohong. Dalam hal ini, kemampuan berpikir kritis dan kreatif sangat penting bagi seorang PR. Seorang PR harus bisa kritis dalam mendengarkan masalah yang didapat perusahaannya, setelah itu barulah dia bisa memecahkan masalahnya dan membangkitkan kembali imej perusahaannya yang telah jatuh dengan cara yang kreatif.
Pertemuan IV
Pertayaan Refleksi

1. Pada pertemuan minggu kemarin, hal penting yang diajarkan adalah, kita semua

kembali mengevaluasi definisi-definisi 3 pernyataan yang dipelajari minggu lalu.

2. Hal menariknya adalah, mayoritas ternyata salah mengerti definisi dari pernyataan

analitik. Sehingga kemarin banyak yang berdiri didepan karena salah menjawab,

termasuk saya. Jadi kemarin kita kembali diberikan tugas yang berhubungan dengan

pernyataan evaluatif,empiris,dan analitik agar memperdalam pengertian kita tentang

pernyataan-pernyataan tersebut.

Tugas Analisis Berita
Berita pertama.

Pencurian yang dilakukan warga Jalan Griya Prasetya Selatan VIII Pandean

Lamper tanggal 10 September lalu sekira pukul 11.00 siang. Saat itu pelaku

melihat sekelompok kambing yang digembala di bantaran sungai Kanal Banjir

Timur.  Kemudian Sender mengincar satu kambing yang sedang makan rumput.

(http://news.detik.com/berita-jawa-tengah/3026937/ngebut-pencuri-ternak-jatuh-dari-motor-dan-kambingnya-mati)

Komentar: paragraf diatas termasuk dalam paragraf empiris. Karena,

dalam paragraf tersebut melibatkan panca indera. Seperti dalam kalimat

kedua terdapat kata “melihat” yang berarti pernyataan tersebut dapat

dibuat berdasarkan hasil dari indera penglihatan.

Berita ke-dua

Tetapi pemuda sekarang beda dengan pemuda dulu. Sebagian besar pemuda

sekarang lebih cuek, selfish, dan lebih mementingkan diri sendiri. Berkumpul

dan bergabung dengan sebuah komunitas yang baik dan benar akan sangat

membantu.

(http://news.detik.com/berita-jawa-timur/3027215/nyc-dan-kkr-aog-untuk-indonesia-yang-lebih-baik)

Komentar: paragraf diatas termasuk paragraf evaluatif. Paragraf diatas

menyatakan “pemuda sekarang lebih cuek,selfish...” yang mengandung

unsur subjektivitas, karena tidak semua pemuda sekarang cuek atau

selfish dan juga tidak semua orang setuju akan pendapat tersebut.

Berita ke-tiga

"Kita akan kirim foto anak ini ke Polres, supaya dibantu untuk mencari orang

tua anak ini," ungkap AKBP Bastoni Purnama, saat menjenguk kondisi bayi

malang tersebut di Rumah Sakit UMUM Daerah  (RSUD) Blambangan,

Banyuwangi, Kamis (24/9/2015).

(http://news.detik.com/berita-jawa-timur/3027602/polisi-koordinasi-dengan-polda-jabar-cari-pembawa-bayi-cahya)

Komentar: paragraf tersebut termasuk paragraf analitik. Karena, dalam

paragraf tersebut terdapat pernyataan “Kita akan kirim foto anak ini ke

Polres supaya dibantu mencari orang tua anak ini”, daridulu orang-orang

juga sudah tahu jika mencari orang maka jalan keluarnya adalah menghubungi polres.

Pernyataan empiris: pernyataan yang didasarkan pada fakta, dan bisa dibuktikan

dengan panca indera baik lewat penglihatan, penciuman,pendengaran,perasa, dan peraba

Pernyataan evaluatif: pernyataan yang berasal dari opini seseorang, dan

mengandung unsur subjektivitas sehingga kebenarannya tidak pasti.

Pernyataan analitik: pernyataan yang didasarkan dari analisa yang sudah

dibuktikan sejak dulu dan semua orang sudah tau kebenarannya. Benar atau

tidak suatu pernyataan pantas disebut pernyataan analitik, dilihat dari makna

kata itu sendiri. Seperti: Bumi itu bulat.

Pertemuan V
1. Hal penting yang kita pelajari di pertemuan kemarin adalah, kita
mengkritisi sebuah kasus melalui 8 tahap berpikir kritis
2. Melalui 8 tahap tersebut, kita jadi lebih kritis dalam membaca sebuah
berita. Karena selama ini, kita biasanya hanya membaca sambil lalu saja
dan menerima mentah-mentah semua yang ditulis oleh penulis berita.
padahal terkadang penulis juga bisa salah dan juga bisa subjektif. Seperti
kemarin kasus Rudi Rubiandini, kalau kita baca secara cermat penulis
seperti menggeneralisasikan bahwa semua pejabat yang terlihat “rendah
hati” itu pasti diam-diam korupsi seperti Rudi Rubiandini padahal tidak
semuanya seperti itu.

Pertemuan VI
1. Hal yang penting dipelajari di pertemuan kemarin adalah, para mahasiswa belajar
mengenai argumen valid dan argumen tidak valid
2. Dari pertemuan kemarin, mahasiswa jadi bisa membedakan mana argumen yang
valid dan mana argumen yang tidak valid. Argumen yang valid adalah argumen yang,
konklusi dan premisnya bisa semua sala, dan jika premisnya ada yang salah bisa saja
konklusinya benar. Sedangkan argumen tidak valid adalah, argumen yang jika ada
kemungkinan lain dari sebuah argumen tersebut (tidak jelas argumennya benar atau

salah) maka argumen tersebut berarti tidak valid.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar