Minggu, 11 Oktober 2015

Josephine V.W.

Nama: Josephine Valencia Wongso   
NIM: 00000008545
Pertemuan I

1. Apakah hal-hal penting (konsep, pemikiran, pemahaman) yang diulas dalam pertemuan ini?
  Dalam pertemuan ini, saya belajar bahwa seorang mahasiswa harus bepikir kritis. Berpikir kritis artinya harus mengamati keadaan, tidak tahan untuk terus berada di zona nyaman dan terus bertanya-tanya tentang suatu keadaan.  Saya sebagai mahasiswa harus berpikiran kritis karena orang yang tidak kritis tidak punya pendirian dan mengikuti arus orang lain. Berpikir kritis artinya terus-menerus bertanya “why?”, “how?”,”how can that be?”,dll.

   Dalam pertemuan pertama ini juga diulas tentang level of learning yang dicetus oleh Bloom. Piramida Level of Learning ini terbagi menjadi 6 bagian, dimulai dari yang paling dasar, remembering, understanding, applying, analyzing, evaluating sampai yang paling atas yaitu creating. Dalam video yang ditonton di awal kelas berlangsung, dijelaskan bahwa saat masih SMA, pelajar hanya masuk sebatas di tahap remembering, yaitu menerima mentah-mentah informasi dari guru-guru dan mengingatnya ketika ujian sedang berlangsung. Namun sebagai mahasiswa, saya tidak hanya harus remember apa yang saya pelajari tapi juga untuk mengerti apa yang sedang dibahas.  Dalam tahap applying juga diajarkan bahwa ilmu-ilmu yang didapat ketika pembelajaran harus diterapkan untuk memecahkan masalah-masalah di situasi tertentu.  Di tahap analyzing, informasi dipecah-pecahkan  untuk mengetahui sebab akibat. Dalam tahap evaluating, ide yang diterima harus dipresentasikan dan diberikan fakta-fakta untuk mendukung ide-ide tersebut. Biasanya di tahap ini, sering kali ditanyakan pertanyaan dengan awalan “why?”. Barulah pada tahap ‘creating’, ide-ide baru dapat dibuat dan diterapkan dalam kehidupan nyata untuk memecahkan masalah-masalah di kehidupan sehari-hari dan dapat digunakan di kehidupan masyarakat sosial.

2. Apakah hal-hal penting dan menarik bagi Anda sebagai mahasiswa dan mengapa?

  Sebagai mahasiswa, saya sadar bahwa saya harus lebih aktif lagi di kelas dan lebih berani
menyuarakan pendapat saya.  Seperti yang telah Bapak Suhendra katakana bahwa beliau
memberikan nilai berdasarkan keaktifan mahasiwa selama dikelas, saya mau lebih aktif di kelas karena dengan begitu, ilmu yang saya dapatkan juga akan menambah.

  Hal menarik lain yang saya sadari di hari pertama menjadi seorang mahasiswa adalah bahwa
kompetisi di perkuliahan sangatlah kental terasa. Teman-teman saya berani menyuarakan
pendapat mereka satu persatu dan merangkai ucapan mereka dengan teroganisir sementara
saya hanya duduk di bangku, terdiam dan mendengarkan mereka. Saya tidak mau terus
menerus seperti itu karena hal itu sangat mengintimidasi kepercayaan diri saya. Saya sadar ini
adalah kampus dan bukan sekolah, mental kedewasaan saya sangat diasah disini dan saya juga harus menjadi lebih mandiri, termasuk dalam hal berinteraksi di kelas. Saya harus mengalahkan rasa malu saya dan berpartisipasi lebih dalam diskusi.

   Hal penting lainnya adalah sebagai mahasiswa, saya dituntut bukan hanya untuk menjadi
kreatif, tapi juga menjadi kritis terhadap apa yang terjadi di lingkungan saya . Saya tidak mau
menjadi apatis, menjadi seorang individu yang bersikap acuh tak acuh dengan apa yang terjadi di sekitar saya. Saya mau menjadi lebih peka karena status saya sekarang adalah sebagai seorang mahasiswa, bukan lagi seorang siswa.

  Seperti yang diajarkan pada awal pertemuan tadi, cara belajar di perguruan tinggi dengan di
sekolah juga berbeda. Di sekolah, saya tidak mengerti materinya pun tak apa asal saya
menghafal saja isi bukunya, saya pasti mendapatkan nilai yang bagus. Tapi di perguruan tinggi, saya harus mengerti materi yang diberikan oleh para dosen karena Ilmu Komunikasi bukan lagi tentang menghafal buku cetak di luar kepala tetapi untuk mengerti setiap permasalah persoalan yang diberikan, termasuk berhasil dalam menganalisa apa yang sedang terjadi di lingkungan sekitar saya dan mengolah informasi yang saya dapatkan menjadi sebuah fakta yang bisa dipresentasikan kepada masyarakat.

Pertemuan II

1. Apakah hal-hal penting (konsep, pemikiran,pemahaman) yang diulas dalam pertemuan ini?

  Pada awal pertemuan ini, semua mahasiswa harus membuat kelompoknya masing-masing.
Setelah membentuk kelompok, kami pun dihadapkan oleh sebuah case study. Case study ini
bercerita tentang seorang sekuriti yang terlalu percaya kepada seorang paranormal yang
mengatakan bahwa ada bom di dalam pesawat, sehingga meyebabkan pesawat tidak jadi
terbang dan perusahaan pesawat tersebut mengalami kerugian besar. Sekuriti ini pun dipanggil oleh atasannya dan atasannya berfikir untuk memcecat sekuriti tersebut sekaligus membawa si peramal ke jalur hukum.

   Pada pertemuan ini, saya diajari lagi untuk berpikir lebih kritis. Berpikir kritis bukan berarti
mengkritisasi semua hal. Namun, berpikir kritis adalah menimbang semua advantages dan
disadvantages yang mungkin berlaku setelah sebuah tindakkan dilakukan.

  Dalam pertemuan ini, semua kelompok diminta untuk mengevaluasi tindakkan sang sekuriti
dan atasannya dan berhak memilih untuk memihak kepada siapa: sekuriti, bos atau nil. Setelah diberikan waktu untuk berunding, mayoritas kelompok memilih untuk tidak memihak siapapun. Baik bos ataupun sekuriti sama-sama belum berpikir kritis akan tindakkan mereka. Diskusi yang berlangsung menghasilkan bahwa si bos berpikir realistis (untuk menahan dan menginterogasi sang peramal) dan bukan kritis. Dalam kondisi tersebut, tentu tahap procedural tidak dapat

dilakukan dalam situasi urgent. Namun, tindakkan sekuriti pun membuktikan bahwa Ia juga
tidak berpikir kritis. Ia terlalu ceroboh dalam bertindak sehingga menyebabkan pesawat gagal
terbang dan terlalu panik dalam menghadapi situasi urgent tersebut. Ia juga mudah percaya
kepada sang paranormal walaupun kebenarannya belum bisa dibuktikan.

2. Apakah hal-hal penting dan menarik bagi anda sebagai mahasiswa dan mengapa?

      Di dalam pertemuan ini, saya belajar untuk terus berpikir kritis dengan terus menanyakan
pertanyaan kritis yang diawali dengan 'apa?','mengapa?' dan 'bagaimana?'. Saya belajar bahwa pertanyaan kritis harus sebisa mungkin menohok orang yang kita tanyakan - sampai Ia kehaisan kata-kata dan pikiran untuk menjawab pertanyaan kita.

    Saya juga belajar tentang Socrate's Critical Inquiry. Dalam critical inquiry itu, ada beberapa pertanyaan yang harus ditanyakan, antara lain questions for clarifications, questions about assumptions, questions about reasons and evidences, questions about viewpoints and perspectives dan questions about implications and consequences. Jika unsur-unsur tersebut ada dalam pertanyaan yang kita buat, sudah pasti pertanyaan itu adalah pertanyaan yang kritis.

   Dari pertemuan ini juga, saya mengetahui bahwa ada dua macam alasan. Tipe pertama adalahalasan untuk penjelasan yang didasari oleh sebab akibat. Tipe alasan seperti ini hanya bisa dipakai untuk memperjelas suatu keadaan dan tidak bisa dipakai dalam sebuah argumen. Alasanyang sangat berguna dalam sebuah argumen adalah sebuah alasan yang bisa memberikan bukti dan fakta. Tipe kedua ini berguna untuk membuktikkan suatu fakta yang ada.

Pertemua III

PERTEMUAN KE-TIGA

1.Apakah hal-hal penting (konsep,pemikiran,pemahaman) yang diulas dalam pertemuan ini?

  Pada awal pertemuan, diputarkan sebuah video yang menjelaskan apa itu berpikir kritis. Berpikir kritis tidak sama dengan mengkritisi seseorang atau sesuatu dan melihat bukan hanya sisi negatifnya saja, tetapi juga melihat dari berbagai perspektif. Masalah yang sedang terjadi tidak boleh dilihat hanya dari satu perspektif saja, tetapi harus dilihat juga dari perspektif orang lain. Lalu, barulah kita bisa mengevaluasi tindakan kita agar tidak bias pada akhirnya.
  Dalam pertemuan ini, dibahas tentang lingkup bahasan,urgensi belajar dan terminologi dan perbedaan berpikirs kritis dan kreatif. Dalam pertemuan ini, saya jadi tahu perbedaan logis dan masuk akal. Yang masuk akal, belum tentu logis tetapi yang logis sudah pasti masuk akal. Logis artinya pengetahuan yang diterima oleh masyarakat yang harus sesuai dengan pemikiran sementara masuk akal adalah apa yang dapat diterima oleh panca indera.

2. Apakah hal-hal penting dan menarik bagi Anda sebagai mahasiswa dan mengapa?

     Hari itu saya belajar membedakan apa itu pernyataan dan kalimat. Sebagai calon jurnalis, tentu sangat penting bagi saya untuk mengetahui perbedaan antara pernyataan dan kalimat. Pernyataan artinya kita mencoba membuktikan sebuah fakta atau sesuatu dengan cara persuasif tetapi sebuah kalimat hanya berusaha untuk mencoba menjelaskan. Sebuah pernyataan harus bisa dibuktikan sementara sebuah kalimat tidak harus berdasarkan sebuah fakta yang telah ada. 

UREGENSI - RELEVANSI DENGAN ILMU KOMUNIKASI

1.     Apa urgensinya bagi mahasiswa ilmu komunikasi untuk belajar berpikir kritis dan kreatif?
   Sebagai seorang mahasiswa Ilmu Komunikasi, tentu saja saya banyak bertemu dengan karya tulis maupun menulis karya tulis saya sendiri selama berkuliah.  Dunia Ilmu Komunikasi sangat lekat dengan yang namanya tulis menulis. Tentu, sebagai calon praktisi profesional di bidang pekerjaan nantinya, sangat diperlukan bagi saya untuk berpikir kritis dengan tidak menerima mentah-mentah apa yang saya dapatkan dari berita dan lingkungan sosial.  Seorang yang terpelajar harus bepikir kritis dan tidak langsung menerima apa yang dicekoki kepada mereka. Seluk beluk dan fakta harus diselidiki terlebih dahulu sebelum menerima dan menyetujui sebuah permasalahan.
    Berpikir kreatif juga sangat penting, apalagi bagi mahasiswa ilmu Komunikasi karena kita dituntut untuk selalu muncul dengan ide-ide baru yang out of the box dan inovatif. Mahasiswa Ilmu Komunikasi tidak hanya boleh mengandalkan ilmu teori yang mereka dapatkan di kelas dan menghafal apa yang dosennya ajarkan, tetapi juga untuk berpikir kreatif ketika menemukan suatu masalah karena komunikasi adalah sesuatu yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari dan tidak bisa dijalani hanya dengan mengandalkan teori-teori belaka karena jika hanya mengandalkan teori, komunikasi tidak akan berjalan seperti seharusnya dan apa yang ingin kita sampaikan tidak akan tersampaikan.

2.     Apa relevansinya antara kemampuan berpikir kritis dan kreatif dengan profesi dalam ilmu komunikasi seperti jurnalis atau public relations? 
  Karena nantinya saya akan memilih untuk mempelajari ilmu jurnalistik lebih dalam, maka jawaban saya akan berdasarkan kegunaan berpikir kritis dan kreatif dalam menjadi seorang jurnalis. Jurnalis adalah profesi yang terpandang dan terhormat karena memberikan fakta kepada khalayak banyak, tidak peduli dalam situasi dan kondisi apapun. Maka, apa yang di beritakan oleh para jurnalis juga harus berdasarkan fakta, bukan rumor, apalagi memihak kepada suatu individu atau kelompok. Seorang jurnalis harus berpikir kritis ketika mengolah sebuah sumber yang telah Ia terima sebelu mempresentasikannya menjadi sebuah berita yang layak. Ia harus menguji kredibiltas sumber itu sendiri karena bila telah dijadikan sebuah berita, apa yang telah dilaporkan tidak bisa ditarik lagi dari peredaran dan seorang jurnalis harus bertanggung jawab akan berita yang telah Ia buat sendiri.


  Sementara untuk berpikir kreatif, seorang jurnalis harus mencari berita yang memang layak dan menarik perhatian masyarakat, yang juga memang layak public berikan waktu untuk membaca atau menonton. Saya sendiri sangat tidak menyukai yang namanya gosip. Seorang jurnalis sudah sangat terpelajar bila harus memberitakan yang namanya gosip yang levelnya masih sangat dibawah. Seorang jurnalis yang kreatif harus mencari berita yang belum diulik atau menggali lebih dalam sebuah berita yang telah diulik oleh jurnalis lainnya dan mengemas berita tersebut menjadi sebuah berita yang sangat menarik dan bukan hanya menarik, tetapi juga sekaligus membuktikan sebuah fakta yang selama ini publik ingin tau. 

Pertemuan IV

Pertayaan Mingguan

1. Apakah hal-hal penting (konsep,pemikiran dan pemahaman) yang diulas dalam pertemuan ini?

Pada pertemuan ini dibahas tentang langkah-langkah berpikir kritis dan kreatif

dan hamabatan untuk berpikir kritis dan kreatif. Pada awal pertemuan juga Pak

Suhendra menanyakan kembali tentang materi minggu lalu yaitu tentang

pernyataan analitik. Dalam pertemuan ini kembali dibahas tentang apa itu

pernyataan analitik, evaluatif dan empiris. Saya jadi mengerti lebih dalam

perbedaan antara ketiga macam pernyataan tersebut dan seperti yang telah

saya katakana sebelumnya pada pertemuan ini juga diulas hambatan ketika

berpikir kritis dan kreatif dan cara untuk mengatasi hambatan tersebut yakni

dengan sikap, kebiasaan, skills dan komitmen untuk terus menerus

melakukannya, yakni dengan mempertanyakan sesuatu.

2. Apakah hal-hal penting dan menarik bagi anda sebagai mahasiswa dan mengapa?

Karena saya adalh mahasiswa Ilmu komunikasi yang nantinya akan mengambil

jurnalisme, berpikir kritis dan kreatif sangatlah penting bagi saya. Namun, tidak

berani mengutarakan pendapat dan terlalu bergantung kepada buku menjadi

hambatan saya untuk berpikir kritis dan kreatif.  Namun, sebagai calon wartawan

di kemudian hari, saya harus berani untuk berpikir kritis dan out of the box. Saya

harus selalu ingat bahwa berpikir kritis dan kreatif adalah sebuah keterampilan

dan kecakapan yang diperoleh dengan cara melatihnya berulang-ulang dan

dengan demikian menjadi sebuah habit.

Tugas Analisa Berita

1. “Tidak normal untuk bergerak menanjak seperti itu,sangat jarang bagi pesawat

komersial, yang biasanya hanya setinnggi 1000 sampai 2000 kaki per menit,”

kata Menteri jonan seperti dilaporkan kantor berita AP. (Air asia QZ8501 Hilang)

Pernyataan tersebut dibuat oleh menteri jonan. Tidak semua orang mengetahui

ketinggian saat sebuah pesawat komersial terbang. Mungkin memang tinggi

standarnya hanya 1000-2000 kaki tapi tergantung pasa pilot yang mengendarai

pesawatnya. Jadi, pernyataan tersebut terpacu pada opini pribadi Menteri Jonan

yang menjadikan pernyataan tersebut evaluatif.

2. “Para penyelidik masih memeriksa 2 alat pencatat penerbangan untuk

mengetahui penyebab kecelakaan.” (Air Asia QZ8501 Hilang)

Pernyataan tersebut adalah pernyataan empiris karena penyebab kecelakaan

pesawat masih harus diselidiki, apakah benar penyebabnya adalah kesalahan

teknis atau manusia.

3. “Buah mangga mengandung banyak gizi.” (Manfaat Buah Mangga)

Pernyataan tersebut adalah pernyataan analitik karena semua orang tau kalau

manga baik untuk tubuh karena menyehatkan.

Pernyataan empiris:kebenaran dari pernyataan tersebut harus diselidiki terlebih dahulu sebelum diverifikasi.

Pernyataan analitik: kebenaran bisa disimpulkan dari pernyataan itu sendiri.

Pernyataan evaluatif: kebenaran tergantung persepsi orang masing-masing.

Pertemuan V
Pertayaan Mingguan

1. Apakah hal-hal penting (konsep,pemikiran dan pemahaman) yang diulas dalam pertemuan ini?

Pada pertemuan ini dibahas tentang langkah-langkah berpikir kritis dan kreatif

dan hamabatan untuk berpikir kritis dan kreatif. Pada awal pertemuan juga Pak

Suhendra menanyakan kembali tentang materi minggu lalu yaitu tentang

pernyataan analitik. Dalam pertemuan ini kembali dibahas tentang apa itu

pernyataan analitik, evaluatif dan empiris. Saya jadi mengerti lebih dalam

perbedaan antara ketiga macam pernyataan tersebut dan seperti yang telah

saya katakana sebelumnya pada pertemuan ini juga diulas hambatan ketika

berpikir kritis dan kreatif dan cara untuk mengatasi hambatan tersebut yakni

dengan sikap, kebiasaan, skills dan komitmen untuk terus menerus

melakukannya, yakni dengan mempertanyakan sesuatu.

2. Apakah hal-hal penting dan menarik bagi anda sebagai mahasiswa dan mengapa?

Karena saya adalh mahasiswa Ilmu komunikasi yang nantinya akan mengambil

jurnalisme, berpikir kritis dan kreatif sangatlah penting bagi saya. Namun, tidak

berani mengutarakan pendapat dan terlalu bergantung kepada buku menjadi

hambatan saya untuk berpikir kritis dan kreatif.  Namun, sebagai calon wartawan

di kemudian hari, saya harus berani untuk berpikir kritis dan out of the box. Saya

harus selalu ingat bahwa berpikir kritis dan kreatif adalah sebuah keterampilan

dan kecakapan yang diperoleh dengan cara melatihnya berulang-ulang dan

dengan demikian menjadi sebuah habit.

Pertemuan V
1. Apakah hal-hal penting (konsep,pemikiran dan pemahaman) yang diulas dalam pertemuan ini?

 Dalam pertemuan kelima ini, kami dibagi menjadi beberapa kelompok dan diminta untuk mengevaluasi suatu berita. Berita tersebut berisi tentang Rudi Rubiandini. Kami diminta untuk menentukan apakah berita tersebut merupakan berita analitik,evaluatif ataukah empiris. Dalam pertemuan ini diulas kembali apa itu pernyataan analitik,evaluatif atau empiris dan juga cara mengaplikasikan 8 cara untuk berpikir secara kritis. Langkah-langkah untuk berpikir kritis seperti merumuskan masalah yang sedang terjadi dan juga cara untuk menyelesaikan masalah tersebut juga dipakai dalam mengevaluasi sebuah berita. Setelah belajar tentang pernyataan
analitik,evaluatif dan empiris, diputar juga sebuah video yang membedakan mana itu fakta dan opini.

2. Apakah hal-hal penting dan menarik bagi Anda sebagai mahasiswa dan mengapa?

Sebagai mahasiswa Ilmu Komunikasi, sangat penting bagi saya untuk bisa membedakanmanakah pernyataan analitik,evaluatif atau empiris. Sebagai seorang mahasiswa yang nantinyaakan mengambil Jurnalistik, tidak semua berita bisa dipercaya dan ditelan mentah-mentahkarena bisa saja berita yang dibuat atau disampaikan kebanyakkan mengandung opini sang

penulis dan akhirnya menjadi berita yang bias. Saya juga belajar bedanya fakta dan opini.Sebuah fakta bisa dibuktikan tetapi opini adalah kepercayaan diri sendiri dan hanya bisa di judge melalui kekuatan opini yang kita berikan. Opini yang kuat akan sangat bagus bila sedang menulis atau membuat berita yang bersifat persuasif.

Pertemuan VI
1. Apakah hal-hal penting (konsep,pemikiran dan pemahaman) yang diulas dalam pertemuan ini?

  Dalam pertemuan ini, dibahas lebih dalam tentang argumen dan pernyataan. Argumen tidak
memberikan penjelasan. Argumen tidak sama dengan kontradiksi. Sebuah argumen juga harus memiliki premis dan konklusi. Premis artinya pernyatan yang mengemukakan alasan atau bukti sementara konklusi adalah pernyataan bahwa bukti diklaim. Ada dua tipe argument yaitu deduktif dan induktif. Dalam teori kuno, deduktif dan induktif bisa dibedakan dengan teori umum khusus yaitu bila deduktif pernyataan itu akan menjadi umum khusus sementara jika induktif akan menjadi khusus umum. Namun, teori kuno tersebut tidak bisa dipakai dalam segala keadaan. Jadi, terdapat teori baru untuk memnedakan yang mana pernyataan induktif dan deduktif. Sebuah pernyataan induktif memiliki premis yang mendukung kesimpulan dengan probabilitas dependen, kesimpulan kurang pasti dan tidak dijamin kesimpulannya benar. Sementara pernyataan deduktif bersifat mutlak, probabilitas independen, kesimpulan harus
pasti dan dijamin benar. Dalam pernyataan deduktif ada dua tipe lagi yaitu pernyatan valid dan invalid. Pernyataan akan menjadi invalid bila tidak berhubungan satu sama lain dan masih ada kemungkinan lain yang dapat diambil dari pernyataan tersebut.

2. Apakah hal-hal penting dan menarik bagi Anda sebagai mahasiswa dan mengapa?

  Sebagai mahasiswa Ilmu Komunikasi, sangat penting bagi saya untuk dapat membedakan yang mana pernyataan induktif dan deduktif. Pernyataan induktif lebih bersifat bias karena

mengandung opini pribadi sementara pernyataan deduktif harus mengandung fakta yang dapat diverifikasi atau dibuktikan. Saya juga belajar banyak tentang hubungan premis dan konklusi dengan argument yang valid atau tidak valid. Premis dan konklusi dari argumen yang tidak valid dapat semuanya benar sama halnya dengan premis dan konklusi dari argumen yang valid  dapat juga semuanya salah. Semua argumen yang benar tidak boleh didefinisikan dengan premis yang benar sama halnya dengan argument yang valid dengan premis yang salah dapat mempunyai konklusi yang benar. Hal ini sangat berharga dan penting jikalau menulis sebuah berita nanti agar diusahakan semua pernyataan bersifat deduktif dan valid ketika membuat sebuah berita yang baik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar