Nama:
Josephine Valencia Wongso
NIM:
00000008545
Pertemuan
I
1.
Apakah hal-hal penting (konsep, pemikiran, pemahaman) yang diulas dalam
pertemuan ini?
Dalam pertemuan ini, saya belajar bahwa
seorang mahasiswa harus bepikir kritis. Berpikir kritis artinya harus mengamati
keadaan, tidak tahan untuk terus berada di zona nyaman dan terus bertanya-tanya
tentang suatu keadaan. Saya sebagai
mahasiswa harus berpikiran kritis karena orang yang tidak kritis tidak punya
pendirian dan mengikuti arus orang lain. Berpikir kritis artinya terus-menerus
bertanya “why?”, “how?”,”how can that be?”,dll.
Dalam pertemuan pertama ini juga diulas
tentang level of learning yang dicetus oleh Bloom. Piramida Level of Learning
ini terbagi menjadi 6 bagian, dimulai dari yang paling dasar, remembering,
understanding, applying, analyzing, evaluating sampai yang paling atas yaitu
creating. Dalam video yang ditonton di awal kelas berlangsung, dijelaskan bahwa
saat masih SMA, pelajar hanya masuk sebatas di tahap remembering, yaitu
menerima mentah-mentah informasi dari guru-guru dan mengingatnya ketika ujian
sedang berlangsung. Namun sebagai mahasiswa, saya tidak hanya harus remember
apa yang saya pelajari tapi juga untuk mengerti apa yang sedang dibahas. Dalam tahap applying juga diajarkan bahwa
ilmu-ilmu yang didapat ketika pembelajaran harus diterapkan untuk memecahkan
masalah-masalah di situasi tertentu. Di
tahap analyzing, informasi dipecah-pecahkan
untuk mengetahui sebab akibat. Dalam tahap evaluating, ide yang diterima
harus dipresentasikan dan diberikan fakta-fakta untuk mendukung ide-ide
tersebut. Biasanya di tahap ini, sering kali ditanyakan pertanyaan dengan
awalan “why?”. Barulah pada tahap ‘creating’, ide-ide baru dapat dibuat dan
diterapkan dalam kehidupan nyata untuk memecahkan masalah-masalah di kehidupan
sehari-hari dan dapat digunakan di kehidupan masyarakat sosial.
2.
Apakah hal-hal penting dan menarik bagi Anda sebagai mahasiswa dan mengapa?
Sebagai mahasiswa, saya sadar bahwa saya
harus lebih aktif lagi di kelas dan lebih berani
menyuarakan
pendapat saya. Seperti yang telah Bapak Suhendra
katakana bahwa beliau
memberikan
nilai berdasarkan keaktifan mahasiwa selama dikelas, saya mau lebih aktif di
kelas karena dengan begitu, ilmu yang saya dapatkan juga akan menambah.
Hal menarik lain yang saya sadari di hari
pertama menjadi seorang mahasiswa adalah bahwa
kompetisi
di perkuliahan sangatlah kental terasa. Teman-teman saya berani menyuarakan
pendapat
mereka satu persatu dan merangkai ucapan mereka dengan teroganisir sementara
saya
hanya duduk di bangku, terdiam dan mendengarkan mereka. Saya tidak mau terus
menerus
seperti itu karena hal itu sangat mengintimidasi kepercayaan diri saya. Saya
sadar ini
adalah
kampus dan bukan sekolah, mental kedewasaan saya sangat diasah disini dan saya
juga harus menjadi lebih mandiri, termasuk dalam hal berinteraksi di kelas. Saya
harus mengalahkan rasa malu saya dan berpartisipasi lebih dalam diskusi.
Hal penting lainnya adalah sebagai
mahasiswa, saya dituntut bukan hanya untuk menjadi
kreatif,
tapi juga menjadi kritis terhadap apa yang terjadi di lingkungan saya . Saya
tidak mau
menjadi
apatis, menjadi seorang individu yang bersikap acuh tak acuh dengan apa yang
terjadi di sekitar saya. Saya mau menjadi lebih peka karena status saya
sekarang adalah sebagai seorang mahasiswa, bukan lagi seorang siswa.
Seperti yang diajarkan pada awal pertemuan
tadi, cara belajar di perguruan tinggi dengan di
sekolah
juga berbeda. Di sekolah, saya tidak mengerti materinya pun tak apa asal saya
menghafal
saja isi bukunya, saya pasti mendapatkan nilai yang bagus. Tapi di perguruan
tinggi, saya harus mengerti materi yang diberikan oleh para dosen karena Ilmu Komunikasi
bukan lagi tentang menghafal buku cetak di luar kepala tetapi untuk mengerti
setiap permasalah persoalan yang diberikan, termasuk berhasil dalam menganalisa
apa yang sedang terjadi di lingkungan sekitar saya dan mengolah informasi yang
saya dapatkan menjadi sebuah fakta yang bisa dipresentasikan kepada masyarakat.
Pertemuan
II
1.
Apakah hal-hal penting (konsep, pemikiran,pemahaman) yang diulas dalam
pertemuan ini?
Pada awal pertemuan ini, semua mahasiswa
harus membuat kelompoknya masing-masing.
Setelah
membentuk kelompok, kami pun dihadapkan oleh sebuah case study. Case study ini
bercerita
tentang seorang sekuriti yang terlalu percaya kepada seorang paranormal yang
mengatakan
bahwa ada bom di dalam pesawat, sehingga meyebabkan pesawat tidak jadi
terbang
dan perusahaan pesawat tersebut mengalami kerugian besar. Sekuriti ini pun
dipanggil oleh atasannya dan atasannya berfikir untuk memcecat sekuriti
tersebut sekaligus membawa si peramal ke jalur hukum.
Pada pertemuan ini, saya diajari lagi untuk
berpikir lebih kritis. Berpikir kritis bukan berarti
mengkritisasi
semua hal. Namun, berpikir kritis adalah menimbang semua advantages dan
disadvantages
yang mungkin berlaku setelah sebuah tindakkan dilakukan.
Dalam pertemuan ini, semua kelompok diminta
untuk mengevaluasi tindakkan sang sekuriti
dan
atasannya dan berhak memilih untuk memihak kepada siapa: sekuriti, bos atau
nil. Setelah diberikan waktu untuk berunding, mayoritas kelompok memilih untuk
tidak memihak siapapun. Baik bos ataupun sekuriti sama-sama belum berpikir
kritis akan tindakkan mereka. Diskusi yang berlangsung menghasilkan bahwa si
bos berpikir realistis (untuk menahan dan menginterogasi sang peramal) dan
bukan kritis. Dalam kondisi tersebut, tentu tahap procedural tidak dapat
dilakukan
dalam situasi urgent. Namun, tindakkan sekuriti pun membuktikan bahwa Ia juga
tidak
berpikir kritis. Ia terlalu ceroboh dalam bertindak sehingga menyebabkan
pesawat gagal
terbang
dan terlalu panik dalam menghadapi situasi urgent tersebut. Ia juga mudah
percaya
kepada
sang paranormal walaupun kebenarannya belum bisa dibuktikan.
2.
Apakah hal-hal penting dan menarik bagi anda sebagai mahasiswa dan mengapa?
Di dalam pertemuan ini, saya belajar
untuk terus berpikir kritis dengan terus menanyakan
pertanyaan
kritis yang diawali dengan 'apa?','mengapa?' dan 'bagaimana?'. Saya belajar
bahwa pertanyaan kritis harus sebisa mungkin menohok orang yang kita tanyakan -
sampai Ia kehaisan kata-kata dan pikiran untuk menjawab pertanyaan kita.
Saya juga belajar tentang Socrate's
Critical Inquiry. Dalam critical inquiry itu, ada beberapa pertanyaan yang
harus ditanyakan, antara lain questions for clarifications, questions about assumptions,
questions about reasons and evidences, questions about viewpoints and perspectives
dan questions about implications and consequences. Jika unsur-unsur tersebut
ada dalam pertanyaan yang kita buat, sudah pasti pertanyaan itu adalah
pertanyaan yang kritis.
Dari pertemuan ini juga, saya mengetahui
bahwa ada dua macam alasan. Tipe pertama adalahalasan untuk penjelasan yang
didasari oleh sebab akibat. Tipe alasan seperti ini hanya bisa dipakai untuk
memperjelas suatu keadaan dan tidak bisa dipakai dalam sebuah argumen. Alasanyang
sangat berguna dalam sebuah argumen adalah sebuah alasan yang bisa memberikan
bukti dan fakta. Tipe kedua ini berguna untuk membuktikkan suatu fakta yang
ada.
Pertemua
III
PERTEMUAN
KE-TIGA
1.Apakah hal-hal penting
(konsep,pemikiran,pemahaman) yang diulas dalam pertemuan ini?
Pada awal
pertemuan, diputarkan sebuah video yang menjelaskan apa itu berpikir kritis.
Berpikir kritis tidak sama dengan mengkritisi seseorang atau sesuatu dan melihat
bukan hanya sisi negatifnya saja, tetapi juga melihat dari berbagai perspektif.
Masalah yang sedang terjadi tidak boleh dilihat hanya dari satu perspektif
saja, tetapi harus dilihat juga dari perspektif orang lain. Lalu, barulah kita
bisa mengevaluasi tindakan kita agar tidak bias pada akhirnya.
Dalam pertemuan
ini, dibahas tentang lingkup bahasan,urgensi belajar dan terminologi dan
perbedaan berpikirs kritis dan kreatif. Dalam pertemuan ini, saya jadi tahu
perbedaan logis dan masuk akal. Yang masuk akal, belum tentu logis tetapi yang
logis sudah pasti masuk akal. Logis artinya pengetahuan yang diterima oleh
masyarakat yang harus sesuai dengan pemikiran sementara masuk akal adalah apa
yang dapat diterima oleh panca indera.
2. Apakah hal-hal
penting dan menarik bagi Anda sebagai mahasiswa dan mengapa?
Hari itu saya belajar membedakan apa itu pernyataan dan kalimat. Sebagai calon
jurnalis, tentu sangat penting bagi saya untuk mengetahui perbedaan antara
pernyataan dan kalimat. Pernyataan artinya kita mencoba membuktikan sebuah
fakta atau sesuatu dengan cara persuasif tetapi sebuah kalimat hanya berusaha
untuk mencoba menjelaskan. Sebuah pernyataan harus bisa dibuktikan sementara
sebuah kalimat tidak harus berdasarkan sebuah fakta yang telah ada.
UREGENSI
- RELEVANSI DENGAN ILMU KOMUNIKASI
1.
Apa urgensinya bagi
mahasiswa ilmu komunikasi untuk belajar berpikir kritis dan kreatif?
Sebagai
seorang mahasiswa Ilmu Komunikasi, tentu saja saya banyak bertemu dengan karya
tulis maupun menulis karya tulis saya sendiri selama berkuliah. Dunia
Ilmu Komunikasi sangat lekat dengan yang namanya tulis menulis. Tentu, sebagai
calon praktisi profesional di bidang pekerjaan nantinya, sangat diperlukan bagi
saya untuk berpikir kritis dengan tidak menerima mentah-mentah apa yang saya
dapatkan dari berita dan lingkungan sosial. Seorang yang terpelajar harus
bepikir kritis dan tidak langsung menerima apa yang dicekoki kepada mereka.
Seluk beluk dan fakta harus diselidiki terlebih dahulu sebelum menerima dan menyetujui
sebuah permasalahan.
Berpikir kreatif juga sangat penting, apalagi bagi mahasiswa ilmu Komunikasi
karena kita dituntut untuk selalu muncul dengan ide-ide baru yang out of the
box dan inovatif. Mahasiswa Ilmu Komunikasi tidak hanya boleh mengandalkan ilmu
teori yang mereka dapatkan di kelas dan menghafal apa yang dosennya ajarkan,
tetapi juga untuk berpikir kreatif ketika menemukan suatu masalah karena
komunikasi adalah sesuatu yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari dan tidak
bisa dijalani hanya dengan mengandalkan teori-teori belaka karena jika hanya
mengandalkan teori, komunikasi tidak akan berjalan seperti seharusnya dan apa
yang ingin kita sampaikan tidak akan tersampaikan.
2.
Apa relevansinya antara
kemampuan berpikir kritis dan kreatif dengan profesi dalam ilmu komunikasi
seperti jurnalis atau public relations?
Karena nantinya
saya akan memilih untuk mempelajari ilmu jurnalistik lebih dalam, maka jawaban
saya akan berdasarkan kegunaan berpikir kritis dan kreatif dalam menjadi
seorang jurnalis. Jurnalis adalah profesi yang terpandang dan terhormat karena
memberikan fakta kepada khalayak banyak, tidak peduli dalam situasi dan kondisi
apapun. Maka, apa yang di beritakan oleh para jurnalis juga harus berdasarkan
fakta, bukan rumor, apalagi memihak kepada suatu individu atau kelompok.
Seorang jurnalis harus berpikir kritis ketika mengolah sebuah sumber yang telah
Ia terima sebelu mempresentasikannya menjadi sebuah berita yang layak. Ia harus
menguji kredibiltas sumber itu sendiri karena bila telah dijadikan sebuah
berita, apa yang telah dilaporkan tidak bisa ditarik lagi dari peredaran dan
seorang jurnalis harus bertanggung jawab akan berita yang telah Ia buat
sendiri.
Sementara untuk
berpikir kreatif, seorang jurnalis harus mencari berita yang memang layak dan
menarik perhatian masyarakat, yang juga memang layak public berikan waktu untuk
membaca atau menonton. Saya sendiri sangat tidak menyukai yang namanya gosip.
Seorang jurnalis sudah sangat terpelajar bila harus memberitakan yang namanya gosip
yang levelnya masih sangat dibawah. Seorang jurnalis yang kreatif harus mencari
berita yang belum diulik atau menggali lebih dalam sebuah berita yang telah
diulik oleh jurnalis lainnya dan mengemas berita tersebut menjadi sebuah berita
yang sangat menarik dan bukan hanya menarik, tetapi juga sekaligus membuktikan
sebuah fakta yang selama ini publik ingin tau.
Pertemuan
IV
Pertayaan Mingguan
1. Apakah hal-hal
penting (konsep,pemikiran dan pemahaman) yang diulas dalam pertemuan ini?
Pada pertemuan ini
dibahas tentang langkah-langkah berpikir kritis dan kreatif
dan hamabatan
untuk berpikir kritis dan kreatif. Pada awal pertemuan juga Pak
Suhendra
menanyakan kembali tentang materi minggu lalu yaitu tentang
pernyataan
analitik. Dalam pertemuan ini kembali dibahas tentang apa itu
pernyataan
analitik, evaluatif dan empiris. Saya jadi mengerti lebih dalam
perbedaan antara
ketiga macam pernyataan tersebut dan seperti yang telah
saya katakana
sebelumnya pada pertemuan ini juga diulas hambatan ketika
berpikir kritis
dan kreatif dan cara untuk mengatasi hambatan tersebut yakni
dengan sikap,
kebiasaan, skills dan komitmen untuk terus menerus
melakukannya,
yakni dengan mempertanyakan sesuatu.
2. Apakah hal-hal
penting dan menarik bagi anda sebagai mahasiswa dan mengapa?
Karena saya adalh
mahasiswa Ilmu komunikasi yang nantinya akan mengambil
jurnalisme,
berpikir kritis dan kreatif sangatlah penting bagi saya. Namun, tidak
berani
mengutarakan pendapat dan terlalu bergantung kepada buku menjadi
hambatan saya
untuk berpikir kritis dan kreatif. Namun, sebagai calon wartawan
di kemudian hari,
saya harus berani untuk berpikir kritis dan out of the box. Saya
harus selalu ingat
bahwa berpikir kritis dan kreatif adalah sebuah keterampilan
dan kecakapan yang
diperoleh dengan cara melatihnya berulang-ulang dan
dengan demikian
menjadi sebuah habit.
Tugas Analisa Berita
1. “Tidak normal
untuk bergerak menanjak seperti itu,sangat jarang bagi pesawat
komersial, yang
biasanya hanya setinnggi 1000 sampai 2000 kaki per menit,”
kata Menteri jonan
seperti dilaporkan kantor berita AP. (Air asia QZ8501 Hilang)
Pernyataan
tersebut dibuat oleh menteri jonan. Tidak semua orang mengetahui
ketinggian saat
sebuah pesawat komersial terbang. Mungkin memang tinggi
standarnya hanya
1000-2000 kaki tapi tergantung pasa pilot yang mengendarai
pesawatnya. Jadi,
pernyataan tersebut terpacu pada opini pribadi Menteri Jonan
yang menjadikan
pernyataan tersebut evaluatif.
2. “Para
penyelidik masih memeriksa 2 alat pencatat penerbangan untuk
mengetahui
penyebab kecelakaan.” (Air Asia QZ8501 Hilang)
Pernyataan
tersebut adalah pernyataan empiris karena penyebab kecelakaan
pesawat masih
harus diselidiki, apakah benar penyebabnya adalah kesalahan
teknis atau
manusia.
3. “Buah mangga
mengandung banyak gizi.” (Manfaat Buah Mangga)
Pernyataan
tersebut adalah pernyataan analitik karena semua orang tau kalau
manga baik untuk
tubuh karena menyehatkan.
Pernyataan
empiris:kebenaran dari pernyataan tersebut harus diselidiki terlebih dahulu
sebelum diverifikasi.
Pernyataan
analitik: kebenaran bisa disimpulkan dari pernyataan itu sendiri.
Pernyataan
evaluatif: kebenaran tergantung persepsi orang masing-masing.
Pertemuan
V
Pertayaan Mingguan
1. Apakah hal-hal
penting (konsep,pemikiran dan pemahaman) yang diulas dalam pertemuan ini?
Pada pertemuan ini
dibahas tentang langkah-langkah berpikir kritis dan kreatif
dan hamabatan
untuk berpikir kritis dan kreatif. Pada awal pertemuan juga Pak
Suhendra
menanyakan kembali tentang materi minggu lalu yaitu tentang
pernyataan
analitik. Dalam pertemuan ini kembali dibahas tentang apa itu
pernyataan
analitik, evaluatif dan empiris. Saya jadi mengerti lebih dalam
perbedaan antara
ketiga macam pernyataan tersebut dan seperti yang telah
saya katakana
sebelumnya pada pertemuan ini juga diulas hambatan ketika
berpikir kritis
dan kreatif dan cara untuk mengatasi hambatan tersebut yakni
dengan sikap,
kebiasaan, skills dan komitmen untuk terus menerus
melakukannya,
yakni dengan mempertanyakan sesuatu.
2. Apakah hal-hal
penting dan menarik bagi anda sebagai mahasiswa dan mengapa?
Karena saya adalh
mahasiswa Ilmu komunikasi yang nantinya akan mengambil
jurnalisme,
berpikir kritis dan kreatif sangatlah penting bagi saya. Namun, tidak
berani
mengutarakan pendapat dan terlalu bergantung kepada buku menjadi
hambatan saya
untuk berpikir kritis dan kreatif. Namun, sebagai calon wartawan
di kemudian hari,
saya harus berani untuk berpikir kritis dan out of the box. Saya
harus selalu ingat
bahwa berpikir kritis dan kreatif adalah sebuah keterampilan
dan kecakapan yang
diperoleh dengan cara melatihnya berulang-ulang dan
dengan demikian
menjadi sebuah habit.
Pertemuan V
1. Apakah hal-hal penting (konsep,pemikiran dan pemahaman) yang
diulas dalam pertemuan ini?
Dalam
pertemuan kelima ini, kami dibagi menjadi beberapa kelompok dan diminta untuk mengevaluasi
suatu berita. Berita tersebut berisi tentang Rudi Rubiandini. Kami diminta
untuk menentukan apakah berita tersebut merupakan berita analitik,evaluatif
ataukah empiris. Dalam pertemuan ini diulas kembali apa itu pernyataan
analitik,evaluatif atau empiris dan juga cara mengaplikasikan 8 cara untuk
berpikir secara kritis. Langkah-langkah untuk berpikir kritis seperti merumuskan
masalah yang sedang terjadi dan juga cara untuk menyelesaikan masalah tersebut juga
dipakai dalam mengevaluasi sebuah berita. Setelah belajar tentang pernyataan
analitik,evaluatif dan empiris, diputar juga sebuah video yang
membedakan mana itu fakta dan opini.
2. Apakah hal-hal
penting dan menarik bagi Anda sebagai mahasiswa dan mengapa?
Sebagai mahasiswa
Ilmu Komunikasi, sangat penting bagi saya untuk bisa membedakanmanakah pernyataan
analitik,evaluatif atau empiris. Sebagai seorang mahasiswa yang nantinyaakan
mengambil Jurnalistik, tidak semua berita bisa dipercaya dan ditelan
mentah-mentahkarena bisa saja berita yang dibuat atau disampaikan kebanyakkan
mengandung opini sang
penulis dan
akhirnya menjadi berita yang bias. Saya juga belajar bedanya fakta dan opini.Sebuah
fakta bisa dibuktikan tetapi opini adalah kepercayaan diri sendiri dan hanya
bisa di judge melalui kekuatan opini yang kita berikan. Opini yang kuat akan
sangat bagus bila sedang menulis atau membuat berita yang bersifat persuasif.
Pertemuan
VI
1.
Apakah hal-hal penting (konsep,pemikiran dan pemahaman) yang diulas dalam
pertemuan ini?
Dalam pertemuan ini, dibahas lebih dalam
tentang argumen dan pernyataan. Argumen tidak
memberikan
penjelasan. Argumen tidak sama dengan kontradiksi. Sebuah argumen juga harus memiliki
premis dan konklusi. Premis artinya pernyatan yang mengemukakan alasan atau
bukti sementara konklusi adalah pernyataan bahwa bukti diklaim. Ada dua tipe
argument yaitu deduktif dan induktif. Dalam teori kuno, deduktif dan induktif
bisa dibedakan dengan teori umum khusus yaitu bila deduktif pernyataan itu akan
menjadi umum khusus sementara jika induktif akan menjadi khusus umum. Namun,
teori kuno tersebut tidak bisa dipakai dalam segala keadaan. Jadi, terdapat
teori baru untuk memnedakan yang mana pernyataan induktif dan deduktif. Sebuah
pernyataan induktif memiliki premis yang mendukung kesimpulan dengan probabilitas
dependen, kesimpulan kurang pasti dan tidak dijamin kesimpulannya benar. Sementara
pernyataan deduktif bersifat mutlak, probabilitas independen, kesimpulan harus
pasti
dan dijamin benar. Dalam pernyataan deduktif ada dua tipe lagi yaitu pernyatan
valid dan invalid. Pernyataan akan menjadi invalid bila tidak berhubungan satu
sama lain dan masih ada kemungkinan lain yang dapat diambil dari pernyataan
tersebut.
2.
Apakah hal-hal penting dan menarik bagi Anda sebagai mahasiswa dan mengapa?
Sebagai mahasiswa Ilmu Komunikasi, sangat
penting bagi saya untuk dapat membedakan yang mana pernyataan induktif dan
deduktif. Pernyataan induktif lebih bersifat bias karena
mengandung
opini pribadi sementara pernyataan deduktif harus mengandung fakta yang dapat diverifikasi
atau dibuktikan. Saya juga belajar banyak tentang hubungan premis dan konklusi dengan
argument yang valid atau tidak valid. Premis dan konklusi dari argumen yang
tidak valid dapat semuanya benar sama halnya dengan premis dan konklusi dari
argumen yang valid dapat juga semuanya
salah. Semua argumen yang benar tidak boleh didefinisikan dengan premis yang benar
sama halnya dengan argument yang valid dengan premis yang salah dapat mempunyai
konklusi yang benar. Hal ini sangat berharga dan penting jikalau menulis sebuah
berita nanti agar diusahakan semua pernyataan bersifat deduktif dan valid
ketika membuat sebuah berita yang baik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar