Minggu, 06 Desember 2015

IRVANDY JANUAR - 00000008685

Menurut saya kesalahan yang ada dalam Mata Najwa edisi calon wagub kemarin adalah di nara sumbernya. Karena menurut saya, tidak ada satu pun dari nara sumber tersebut yang cukup kuat untuk bertanding untuk ahok. Semestinya, jika metro TV memang serius ingin menampilkan saingan ahok, metro TV seharusnya memanggil kandidat kuat yang bisa menggantikan ahok seperti Ridwan Kamil atau tokoh-tokoh besar lainnya. Bukan memanggil tokoh-tokoh kecil yang hanya akan menjadi penggembira nantinya.

Kesesatan dalam acara Mata Najwa para penantang Ahok

Nama : Sacharissa P. Sutedja
NIM : 00000008847




Dari film yang sudah ditonton kemarin menurut saya mata najwa termasuk dalam kesesatan karena premis negatif. Karena mata najwa mengambil kesimpulan dari dua pihak yang sudah jelas tidak menyukai Ahok, dan menginginkan Ahok lengser dari jabatannya. Dan sudah terlihat dari film tersebut mata najwa cenderung lebih berpihak pada Ahok. Seharusnya sebagai pembawa acara ia mampu menyikapinya dengan baik dengan cara tidak berpihak pada siapa pun. Dan mampu menjadi penegah antara pihak yang mendukung ahok dan pihak yang tidak mendukung ahok. Ketika mata najwa menanyakan beberapa pertanyaan kepada penantang Ahok yaitu Muhammad Sausin , ia cenderung memojokkan beliau dan terlihat mata najwa berpihak pada ahok. Mata najwa juga melampirkan beberapa keburukan dan rekam kesalahan dari Sausin yang membuat beliau beberapa kali tidak mampu menjawab pertanyaan dari mata najwa. Termasuk juga dalam kesesatan Hominem yaitu merendahkan satu pihak yaitu pihak Muhammad Sausin yang agak terpojok dengan beberapa pertanyaan dari mata najwa.  

Kesesatan yang terdapat dalam video Mata Najwa

Stephanie Victoria Rahadi – 00000008690
Di dalam tersebut terdapat kesesatan. Di dalam acara Mata Najwa yang bertopik menentang Ahok tersebut Najwa cenderung mendukung Ahok. Sehingga Najwa sering melontarkan beberapa pertanyaan kepada para bintang tamu yang menentang Ahok. Pertanyaan tersebut membuat para penentang Ahok bingung menjawab pertanyaan. Najwa juga lebih memaksakan sebuah pertanyaan agar dijawab. Bahwa Najwa mendukung Ahok juga dapat dilihat dari ketika Najwa menayakan pertanyaan kepada teman Ahok, Najwa langsung mengiyakan. Tetapi ketika kepada lawan Ahok, Najwa menanyakan nya berkali – kali. Seharusnya Najwa dapat bersikap netral walaupun mungkin iya mendukung Ahok.
Di dalam acara tersebut juga terdapat kesesatan. Salah satu kesesatan nya adalah kesesatan Argumentum ad Ignorantiam. Argumen ini dilkukan ketika seseorang mengacu kepada ketidaktahuan untuk memenagkan perkara. Para penentang Ahok berkata bahwa cara kerja Ahok adalah cara kerja yang lambat. Alasan mereka untuk menentang Ahok sebenernya kurang pas. Karena mereka tidak melihat cara kerja Ahok di belakang. Mereka hanya mengomentari cara kerja Ahok yang terlihat saja, tetapi cara kerja Ahok yang tidak terlihat di media massa mereka tidak tahu.

Najwa juga melakukan kesesatan Hominem dalam acara tersebut. Hominem adalah kesesatan merendahkan pribadi suatu orang. Kesesatan itu dapat dilihat dari ketika Najwa melontarkan pertanyaan “siapkah anda menggantikan Ahok?” kepada Fraksi Gerindra, dan Muhammad Sanusin. Lalu, mereka menjawab “siap”. Najwa langsung hanya tersenyum. Sikap Najwa tersebut merendahkan pribadi Fraksi Gerindra dan Muhammad Sanusin

Analisa Berita by Leonardo Budi Bagas P.

Nama    : Leonardo Budi Bagas P.
Nim        : 00000008829
Tugas    : CCT

Menganalisa Berita

Mata Najwa
Para Penantang Ahok

                Pada kesempatan kali ini, saya akan membahas tentang Program TV berjudl Mata Najwa. “Para Penantang Ahok.” Itu lah pembahasan dalam mata najwa yang akan dibahas. Dalam program ini pro – kontra dengan ahok dipertemukan. Macro Kusumawijaya adalah salah satu dari tim sukses ahok untuk pilkada 2017. Adhiyaksa Dault, Prasetyo Edi, dan Mohamad Sanusi, mereka lah para penantang ahok. Seperti biasanya Mediator mata najwa ingin mengungkap kebenaran dari sebuah peryataan yang diterima oleh yah. Namun, Cara yang digunakan untuk memperoleh kebenaran tersebut terlalu Persuasif .
                Pertayaan  demi pertayaan  terus menghujani narasumber yang kontra terhadap ahok.  Contoh pertayaan yang ditanyakan kepada para narasumber antara lain;
                “ Apa dasar bapak menuding sahabat ahok?”
                “ Jadi bapak menetang atau mendukung ahok?”
                Pertayaan diatas sering sekali diutarakan kepada penantang ahok. Seperti memberitahukan bahwa mereka itu tidak lebih baik daripada ahok. Membuat para penantang ahok terpojok dengan pertayaan tersebut, dan harus memutar otak mereka dalam menjawab pertayaan tersebut.

                Dari pembahasan di atas kita dapat menyimpulkann , adanya kesesatan dalam serial kali ini. Sang mediator tidak bersikap netral dalam kesempatan kali ini. Saya mendeteksi kesesatan  Argumentum ad hominem khususnya mengarah terhadap Argumentum ad hominem tu quoqe/you too. Dari pertayaan-pertayaan yang diutarakan mengaah terhadap tu quoqe. Karena menyerang kepribadian seseorang secara verbal maupun tidak verbal dan ingin memberitahukan bahwa mereka tidak lebih baik daripada ahok.
Mishell Angelia Gloria
00000008666
Critical and Creative Thinking 

Najwa Sihab selaku tuan rumah Mata Najwa mengundang beberapa petinggi negara untuk berdialog dalam episode " Para Penantang Ahok " pada tanggal 7 oktober. Najwa Sihab selaku moderator dalam dialog antar petinggi negara tersebut terlihat tidak bersikap netral dan cenderung berat sebelah kepada pihak Ahok, terlihat dari percakapannya kepada para tamu undangan Mata Najwa yaitu antara lain Bpk Sanusi dan Bpk Adiaksyah Daud yang menyudutkan dengan pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan kepada beliau dan berakhiran dengan tertawaan ataupun senyuman. Percakapan tersebut mengandung kesesatan Argumentum Ad Hominem yang bersifat menyerang latar belakang orang lain. Yang dimana seharusnya, Najwa harus bersikap netral dan tidak menyerang untuk membela salah satu pihak.

MATA NAJWA - Aleksandra Ekhe Wahyu (00000008853)


Aleksandra ekhe Wahyu
00000008853

Kesesatan Mata Najwa ep. “Para Penantang Ahok”
                Najwa Shihab, host atau tuan rumah dari acara Talk Show Mata Najwa belum sepenuhnya melakukan pekerjaannya yang sebagai pewawancara dengan baik. Masih ada beberapa tindakan, sikap, dan kata-kata yang mengandung kesesatan.
1.         1. Sikap Najwa Shihab terhadap salah satu penantang Ahok yaitu Adhyaksa Dault cenderung bersifat abusive atau sikap yang mem-bully. Karena pernyataan-pernyataan yang dilontarkan sangat menyudutkan Adhyaksa selaku narasumber. Padahal seharusnya narasumber menyampaikan materi-materi secara bebas tanpa tekanan apapun dan dari siapapun. Termasuk dari pewawancara. Sudah diketahui argumen-argumen yang disampaikan Najwa termasuk Argumentum ad Hominem karena cenderung melakukan bullying pada narasumber yaitu Adhyaksa Dault.

2.      2. Najwa Shihab mengucapkan kata “plin-plan” yang merupakan kesimpulan yang diciptakannya sendiri. Apalagi sebelum mendengar penjelasan pasti dari narasumber yaitu Mohamad Sanusi yang merupakan anggota DPRD DKI Frksi GERINDRA. Sebelum menjawab pertanyaan yang ditanyakan oleh Najwa, Najwa sudah mengucapkan kata “plin-plan” yang ditujukan pada partai Gerindra. Itu termasuk ke salah satu kesesatan presumsi yang merupakan generalisasi terburu-buru. Atas kesimpulan yang terburu-buru yang Najwa ucapkan kepada partai Gerindra.

3.      3. Argumen dari Najwa Shihab atau bahan dan materi yang disampaikan oleh Najwa sudah sangat menyerang dan bahkan bisa dikatakan tujuannya untuk menghancurkan argumen lawan. Entah para penantang Ahok atau lawan Ahok. Di sini sebagai host, Najwa tidak ingin disalahkan dan sangat yakin dengan argumen yang dia punya. Sehingga cenderung membela Ahok tanpa melihat dari sisi dengan siapa dia berbicara. Penonton di rumah pasti dapat menyimpulkan bahwa acara ini berat sebelah. Karena argumen Najwa yang terlalu menyerang lawan bicaranya. Ini termasuk kesesatan Argumen Bayangan (menyerang, menghancurkan).


Maka, dengan adanya kesesatan-kesesatan tersebut, masih banyak yang harus diperbaiki dari segi menjadi seorang host atau pewawancara. Seharusnya, Najwa bisa bersikap professional dan dapat menerima semua argumen yang disampaikan narasumber. Sehingga, kesimpulan yang didapat juga murni dari perkataan narasumber, bukan dari persepsi sendiri. Walaupun sudah ada Undang-Undang tentang Pers atau Jurnalis, tetapi tetap etika dalam menyampaikan sesuatu dan menerima pendapat orang lain harus tetap terlaksana dengan baik.

Kesesatan dalam acara Mata Najwa-Para Penantang Ahok

Nama : Vimala Putri Sadewa 
Nim    : 00000008702       


Seorang pembawa acara atau moderator sudah seharusnya bersikap netral dan tidak mendukung atau pun menyerang suatu pihak. Najwa sudah terkenal sebagai seorang yang bisa membawa acara dengan sangat baik dan tegas. Namun, pada acaranya di episode kali ini Najwa terkadang terlihat cenderung lebih mendukung Ahok.
Dan sangat terlihat sekali pada saat pertanyaan “siapkah menggantikan Ahok” kepada Muhammad Sanusin, Fraksi Gerindra. Kemudian, Sanusin menjawab siap ,dan Najwa langsung tertawa. Sehingga hal tersebut terlihat seperti merendahkan dan menyebabkan kesesatan Hominem yaitu merendahkan pribadi satu pihak.
Lalu, dari pihak penantang Ahok ,yaitu lawan ahok , Bursa Zanudi. Beliau telah melakukan kesesatan ambiguitas pembagian ,yaitu menganggap apa yang berlaku pada suatu kelompok berlaku ke kelompok lain. Hal ini bisa kita lihat pada saat Bursa Zanudi bersikeras menganggap bahwa “Teman Ahok” adalah kelompok yang dibayar oleh Ahok dan bukanlah relawan.
Pada saat bagian teman ahok vs lawan ahok juga Najwa terlihat lebih mendukung teman Ahok dan menyerang lawan Ahok. Hal ini bisa dilihat dari pada saat setiap Teman Ahok menjelaskan ,Najwa langsung percaya begitu saja. Sedangkan pada saat lawan Ahok menjelaskan ,Najwa terlihat beberapa kali menyerang dengan beberapa pertanyaan yang menyudutkan Bursa Zanudi. Padahal ,sebagai seorang pembawa acara Najwa seharusnya lebih bersikap netral dan tidak memihak pihak manapun.

Nathanael Felicia Gunawan / 000 0000 8547 (Setelah UTS)

Mata Najwa: Para Penantang Ahok

Najwa Shihab sebagai pembawa acara Mata Najwa adalah seorang pembawa acara yang dianggap cukup kritis dalam mengupas suatu hal yang menjadi perbincangan dengan lawan bicaranya. Pada acara Mata Najwa dengan tema "Para Penantang Ahok", 07 Oktober 2015 lalu, banyak orang yang tidak puas dengan tayangan tersebut.

Najwa dianggap bias membahas pokok persoalan, yang seharusnya ia mengkritisi kinerja Ahok yang banyak mendapat perlawanan publik, tetapi yang banyak dibahas perihal kesantunan bahasa dan etnis Ahok. Najwa dianggap seperti kurang tertarik untuk membahas prosedur kerja Ahok yang banyak mendapat perlawanan dari masyarakat dan lebih mengarah kepada sebuah acara dukungan untuk mempertahankan kekuasaan Ahok dari pada sebuah acara yang kritis.

Tampak keberpihakan Najwa Shihab dalam membawakan acara kali ini, terlihat bahwa Najwa berpihak kepada Ahok. Banyak memang yang ia kritisi dari para penentang Ahok dan calon-calon yang merasa diri mampu menyaingi Ahok, tetapi penonton merasa seperti Najwa pada saat itu tidak ingin mengangkat hal kontradiksi yang dapat menjadikan Ahok mendapat pandangan buruk dari para penonton acara ini.

Mata Najwa – Para Penantang Ahok

Mega Priliani Sanjaya
00000008768

            Acara Mata Najwa ini membahas tentang Ahok selaku Gubernur DKI Jakarta dengan para penantangnya dan juga kawannya. Untuk mendukung acara ini berjalan lancar, acara Mata Najwa ini mengundang beberapa pihak seperti Adhyaksa Dault, Bursah Zamubi dan juga Mohammad Sanusi. Didalam acara ini pula saya melihat adanya kesesatan dalam tutur kata mereka. Baik Adhyaksa maupun Najwa selaku pembawa acara. Kesesatan tersebut adalah Ad Hominem.
            Dapat dikatakan Ad Hominem karena dapat kita lihat sebelumnya, Adhyaksa yang tidak terlalu menyetujui Ahok sebagai Gubernur kecuali jika ia mengganti agamanya menjadi agama Islam. Ia membuat pernyataan bahwa lebih baik yang menjadi seorang Gubernur adalah seorang yang beragama Islam atau pribumi sedangkan Ahok bukan.

            Kesesatan lainnya juga ditemukan dari Najwa sendiri. masih dengan bersifat kesesatan Ad Hominem, Najwa melakukan kesalahan dengan terus mendorong dan seakan memaksa Adhyaksa untuk menjawab pertanyaannya. Selain itu juga, ia terlihat sering memotong pembicaraan Adhyaksa ketika ia  menjawab pertanyaan Najwa dan menekan Adhyaksa untuk hanya menjawab secara singkat dan jelas pertanyaan yang ia ajukan. Sebenarnya, ia sebagai pembawa acara tidak boleh melakukan hal seperti itu, karena jika memotong dan terlihat terlalu mendorong orang dengan pertanyaannya, akan terlihat kurang sopan. 

Mata Najwa- Yolanda Cindy Novenia- 00000008758



CCT
Yolanda Cindy Novenia 00000008758
1.       Argumentum ad Verecundiam
Prasetyo Edi lebih memilih mengikuti ketua umum PDI Perjuangan dalam memilih calon gubernur.
2.       Argumentum ad Hominem (sirkumstansial)
Adhyaksa Dault menginginkan untuk Ahok menjadi agama Islam untuk menjadi penerus gubernur Jakarta maupun menjadi calon Presiden selanjutnya.
3.       Argumen Bayangan
Mata Najwa membingungkan antara mendukung Ahok ataupun tidaknya. Karena disetiap pembicaraan Mata Najwa memihak Ahok.

Para Penantang Ahok

Albertus Leo Linardi
00000008530
Mata Najwa Para Penantang Ahok
                Pemilihan Gubenur DKI Jakarta masih dua tahun lagi namun bursa calon kandidat gubenur sedang ramai-ramainya . Adhyaksa Dault  merupakan calon kandidat yang diusung oleh banyak ulama di Jakarta sebagai penantang Gubenur Ahok. Adhyaksa Dault selama perbincangan dengan Najwa melakukan kesesatan Argumentun ad Hominem yang sirkumstansial karena menyerang agama / keyakinan dari Gubenur Ahok dan juga melakukan tindakan pengalihan perhatian karena beliau berbicara berbelit-belit. Sementara itu ada juga salah satu yang diundah adala Bursah Zarnubi yang mewakili Lawan Ahok. Beliau melakukan kesesatan Argumentum ad Hominem yang merendahkan. Karena Beliau menyerang cara bicara Gubenur Ahok yang terbuka.

                Sementara menurut saya Najwa sendiri tidak melakukan kesesatan justru ia melawan kesesatan pengalih perhatian karena argumen-argumen yang di lontarkan di acara ini banyak yang tidak sesuai dengan topik.

MATA NAJWA – Viviani Marsela Wijaya 0000000855



Viviani Marsela Wijaya
00000008558 – Ilmu Komunikasi Kelas A

MATA NAJWA
Najwa episode para penantang Ahok pada tanggal 7 Oktober 2015, memperdebatkan seberapa pantaskah para penantang Ahok menandingi Ahok. Di acara tersebut terlihat jelas bahwa Najwa sebagai tuan rumah atau presenter telah bersikap memihak kepada Ahok. Terbukti ketika ia selalu menyela setiap pernyataan yang dilontarkan oleh para penantang Ahok.
Misalnya ketika Mohamad Sanusi menyatakan bahwa:  “Pak Ahok tuh maunya ke Gerindra, tapi Gerindranya gak mau”
Pernyataan ini langsung disela oleh Najwa dengan ketus:  “Kok yakin banget Pak Ahok gak mau, Pak Ahok udah keluar dari Gerindra loh?”
Secara tidak langsung setiap pernyataan dan pertanyaan yang dilontarkan Najwa telah menyudutkan pihak-pihak penantang Ahok. Hal ini mengandung kesesatan Argumentum ad Hominem, kesesatan yang menyerang latar belakang lawan bicara. Najwa terlihat sangat menyerang pernyataan dari para penantang dan meng-iyakan setiap jawaban dari sahabat Ahok. Najwa tidak semestinya berbuat demikian, sebagai jurnalis yang baik ia harus bisa bersikap profesional dan netral.

MATA NAJWA-PARA PENANTANG AHOK



Nama    : Yashinta Mulya Sari
NIM    : 00000008623

`PARA PENANTANG AHOK’
            Para Penantang Ahok adalah salah satu topik yang di bahas oleh Metro TV dalam acaranya yaitu Mata Najwa. Najwa sendiri merupakan pembawa acaranya. Jika dilihat sekilas, ketika membawakan acara tersebut hingga habis, Najwa nampak tidak memiliki kesalah dalam pembawaannya berbicara. Namun kita ketahui sendiri bahwa manusia tidak luput dari kesalahan. Sebab itu kali ini saya akan membahas beberapa kesalahan yang dibuat oleh seorang Najwa Sihab.
            Dalam topik `Para Penantang Ahok’, di sini Najwa agaknya terlihat lebih cenderung ke arah Ahok. Bukan tanpa alasan, dari cara berbicaranya juga terlihat nampak ia kurang setuju dengan apa yang di katakan oleh narasumber. Jika di lihat dari topik bahasan ini, sesungguhnya posisi pembawa acara diharuskan untuk bersikap netral. Dan mungkin dari pihak Najwa sendiri juga tidak menyadari kesalahan itu. Pembawaannya terlalu cepat dan kerap kali memotong pembicaraan narasumber. Pemotongan pembicaraan di lakukan pasti dengan alasan, entah karena durasi yang mepet maupun dari narasumber sendiri tidak menjawab pertanyaan yang di berikan dalam arti keluar dari apa yang ditanyakan. Namun hal seperti itu membuat kami dalam arti penonton kurang menikmatinya.
            Tak kala kesesatan juga di lontarkan oleh pihak Najwa sendiri. Seperti halnya saat Marko Kusumawijaya mengungkapkan bahwa ia telah mendeklarasikan untuk menantang ahok lewat media sosial Facebook. Disini terjadi kesatan Argumentum ad Hominem yakni merendahkan, dimana Najwa berkata “Karena tidak punya uang yang paling murah karena tidak harus membayar lewat sosial media.” Kalimat ini mengandung arti bahwa ia menjatuhkan Marko Kusumawijaya di hadapan publik. Juga pada saat pembicaraan Sanusi mengenai bahwa Gerindra kemungkinan tidak akan mencalonkan Ahok. Najwa juga sempat memberikan pernyataan dari Hasyim Jodi Jayakusuma yang berisi bahwa “Pintu selalu terbuka bagi Pak Ahok, never say never, selalu ada kemungkinan. Kemungkinan partainya akan mengusung Basuki Cahya Purnama”. Dari pernyataan yang di ucapkan oleh Najwa ini, memberi kesan bahwa seolah-olah Sanusi itu plin plan dan saat itu lah terdapat kesesatan Argumentum ad Hominem Merendahkan. Otomatis dari percakapan tersebut, orang akan berpendapat bahwa kandidat-kandidat ini kurang  baik.
            Di pembahasan dengan Prasetyo Edi Marsudi mengenai bahwa Ahok itu `Bandel’ juga terdapat kesesatan Argumentum ad Hominem Sirkumstansial. Waktu itu Najwa menanggapinya dengan berkata bahwa bukannya Jakarta membutuhkan seorang yang bandel agar tidak ikut penjahat. Di sini Najwa bukan menyerang pernyataan Pras, tetapi ia seakan menyerang hubungan antara pembuat pernyataan (Pras) dan lingkungannya. Ini seolah-olah mengatakan bahwa Najwa ingin Ahok-lah yang ingin menjadi pemimpin Jakarta.
            Selain itu juga dalam acara tersebut terdapat kesesatan Argumentum ad Baculum. Pada saat itu Bursa Zanudi mengatakan bahwa gerakan lawan Ahok adalah gerakan moral bukan gerakan pengkritik. Dan Najwa seketika itu berbiacara seolah mengancam agar Bursa Zanudi tidak akan maju, karena jika maju, konsekuensinya aka menanggung malu karena telah di tonton oleh banyak orang. Kaliamat Najwa yakni “Jadi ga akan maju ya? Bener? Entar berubah? Bener ya? Banyak yang nonton lho ini.” Secara tidak sadar, kalimat yang di ucapkan oleh Najwa merupakan sebuah ancaman bagi Bursa Zainudin
            Itulah beberpa kesalahan maupun kesesatan yang bisa di ketahui dari topik ini. Kesalahan bisa terjadi kapan, di mana, oleh siapa saja, bahkan dengan orang yang sudah berpengalaman pun juga bisa melakukan kesalahan. Namun ada baiknya kita meminimalisir kesalahan tersebut.