Minggu, 06 Desember 2015
IRVANDY JANUAR - 00000008685
Menurut saya kesalahan yang ada dalam Mata Najwa edisi calon wagub kemarin adalah di nara sumbernya. Karena menurut saya, tidak ada satu pun dari nara sumber tersebut yang cukup kuat untuk bertanding untuk ahok. Semestinya, jika metro TV memang serius ingin menampilkan saingan ahok, metro TV seharusnya memanggil kandidat kuat yang bisa menggantikan ahok seperti Ridwan Kamil atau tokoh-tokoh besar lainnya. Bukan memanggil tokoh-tokoh kecil yang hanya akan menjadi penggembira nantinya.
Kesesatan dalam acara Mata Najwa para penantang Ahok
Nama : Sacharissa P. Sutedja
NIM : 00000008847
Dari film yang sudah ditonton kemarin menurut saya mata najwa termasuk
dalam kesesatan karena premis negatif. Karena mata najwa mengambil kesimpulan dari
dua pihak yang sudah jelas tidak menyukai Ahok, dan menginginkan Ahok lengser
dari jabatannya. Dan sudah terlihat dari film tersebut mata najwa cenderung
lebih berpihak pada Ahok. Seharusnya sebagai pembawa acara ia mampu
menyikapinya dengan baik dengan cara tidak berpihak pada siapa pun. Dan mampu
menjadi penegah antara pihak yang mendukung ahok dan pihak yang tidak mendukung
ahok. Ketika mata najwa menanyakan beberapa pertanyaan kepada penantang Ahok
yaitu Muhammad Sausin , ia cenderung memojokkan beliau dan terlihat mata najwa
berpihak pada ahok. Mata najwa juga melampirkan beberapa keburukan dan rekam
kesalahan dari Sausin yang membuat beliau beberapa kali tidak mampu menjawab
pertanyaan dari mata najwa. Termasuk juga dalam kesesatan Hominem yaitu merendahkan
satu pihak yaitu pihak Muhammad Sausin yang agak terpojok dengan beberapa
pertanyaan dari mata najwa.
Kesesatan yang terdapat dalam video Mata Najwa
Stephanie Victoria Rahadi – 00000008690
Di dalam tersebut terdapat kesesatan. Di dalam acara Mata
Najwa yang bertopik menentang Ahok tersebut Najwa cenderung mendukung Ahok.
Sehingga Najwa sering melontarkan beberapa pertanyaan kepada para bintang tamu
yang menentang Ahok. Pertanyaan tersebut membuat para penentang Ahok bingung
menjawab pertanyaan. Najwa juga lebih memaksakan sebuah pertanyaan agar
dijawab. Bahwa Najwa mendukung Ahok juga dapat dilihat dari ketika Najwa
menayakan pertanyaan kepada teman Ahok, Najwa langsung mengiyakan. Tetapi ketika
kepada lawan Ahok, Najwa menanyakan nya berkali – kali. Seharusnya Najwa dapat
bersikap netral walaupun mungkin iya mendukung Ahok.
Di dalam acara tersebut juga terdapat kesesatan. Salah satu
kesesatan nya adalah kesesatan Argumentum ad Ignorantiam. Argumen ini dilkukan
ketika seseorang mengacu kepada ketidaktahuan untuk memenagkan perkara. Para
penentang Ahok berkata bahwa cara kerja Ahok adalah cara kerja yang lambat.
Alasan mereka untuk menentang Ahok sebenernya kurang pas. Karena mereka tidak
melihat cara kerja Ahok di belakang. Mereka hanya mengomentari cara kerja Ahok
yang terlihat saja, tetapi cara kerja Ahok yang tidak terlihat di media massa
mereka tidak tahu.
Najwa juga melakukan kesesatan Hominem dalam acara tersebut.
Hominem adalah kesesatan merendahkan pribadi suatu orang. Kesesatan itu dapat
dilihat dari ketika Najwa melontarkan pertanyaan “siapkah anda menggantikan
Ahok?” kepada Fraksi Gerindra, dan Muhammad Sanusin. Lalu, mereka menjawab
“siap”. Najwa langsung hanya tersenyum. Sikap Najwa tersebut merendahkan
pribadi Fraksi Gerindra dan Muhammad Sanusin
Analisa Berita by Leonardo Budi Bagas P.
Nama : Leonardo Budi
Bagas P.
Nim :
00000008829
Tugas : CCT
Menganalisa Berita
Mata Najwa
Para Penantang Ahok
Pada
kesempatan kali ini, saya akan membahas tentang Program TV berjudl Mata Najwa.
“Para Penantang Ahok.” Itu lah pembahasan dalam mata najwa yang akan dibahas.
Dalam program ini pro – kontra dengan ahok dipertemukan. Macro Kusumawijaya
adalah salah satu dari tim sukses ahok untuk pilkada 2017. Adhiyaksa Dault, Prasetyo
Edi, dan Mohamad Sanusi, mereka lah para penantang ahok. Seperti biasanya Mediator
mata najwa ingin mengungkap kebenaran dari sebuah peryataan yang diterima oleh
yah. Namun, Cara yang digunakan untuk memperoleh kebenaran tersebut terlalu Persuasif .
Pertayaan demi pertayaan terus menghujani narasumber yang kontra
terhadap ahok. Contoh pertayaan yang
ditanyakan kepada para narasumber antara lain;
“
Apa dasar bapak menuding sahabat ahok?”
“
Jadi bapak menetang atau mendukung ahok?”
Pertayaan
diatas sering sekali diutarakan kepada penantang ahok. Seperti memberitahukan
bahwa mereka itu tidak lebih baik daripada ahok. Membuat para penantang ahok
terpojok dengan pertayaan tersebut, dan harus memutar otak mereka dalam
menjawab pertayaan tersebut.
Dari
pembahasan di atas kita dapat menyimpulkann , adanya kesesatan dalam serial kali
ini. Sang mediator tidak bersikap netral dalam kesempatan kali ini. Saya
mendeteksi kesesatan Argumentum ad hominem khususnya mengarah
terhadap Argumentum ad hominem tu
quoqe/you too. Dari pertayaan-pertayaan yang diutarakan mengaah terhadap tu
quoqe. Karena menyerang kepribadian seseorang secara verbal maupun tidak verbal
dan ingin memberitahukan bahwa mereka tidak lebih baik daripada ahok.
Mishell Angelia Gloria
00000008666
Critical and Creative Thinking
Najwa Sihab selaku tuan rumah Mata Najwa mengundang beberapa petinggi negara untuk berdialog dalam episode " Para Penantang Ahok " pada tanggal 7 oktober. Najwa Sihab selaku moderator dalam dialog antar petinggi negara tersebut terlihat tidak bersikap netral dan cenderung berat sebelah kepada pihak Ahok, terlihat dari percakapannya kepada para tamu undangan Mata Najwa yaitu antara lain Bpk Sanusi dan Bpk Adiaksyah Daud yang menyudutkan dengan pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan kepada beliau dan berakhiran dengan tertawaan ataupun senyuman. Percakapan tersebut mengandung kesesatan Argumentum Ad Hominem yang bersifat menyerang latar belakang orang lain. Yang dimana seharusnya, Najwa harus bersikap netral dan tidak menyerang untuk membela salah satu pihak.
MATA NAJWA - Aleksandra Ekhe Wahyu (00000008853)
Aleksandra ekhe Wahyu
00000008853
Kesesatan Mata Najwa ep. “Para Penantang Ahok”
00000008853
Kesesatan Mata Najwa ep. “Para Penantang Ahok”
Najwa
Shihab, host atau tuan rumah dari
acara Talk Show Mata Najwa belum
sepenuhnya melakukan pekerjaannya yang sebagai pewawancara dengan baik. Masih ada
beberapa tindakan, sikap, dan kata-kata yang mengandung kesesatan.
1. 1. Sikap Najwa Shihab terhadap salah satu
penantang Ahok yaitu Adhyaksa Dault cenderung bersifat abusive atau sikap yang mem-bully.
Karena pernyataan-pernyataan yang dilontarkan sangat menyudutkan Adhyaksa
selaku narasumber. Padahal seharusnya narasumber menyampaikan materi-materi
secara bebas tanpa tekanan apapun dan dari siapapun. Termasuk dari pewawancara.
Sudah diketahui argumen-argumen yang disampaikan Najwa termasuk Argumentum
ad Hominem karena cenderung melakukan bullying pada narasumber yaitu Adhyaksa Dault.
2. 2. Najwa Shihab mengucapkan kata “plin-plan”
yang merupakan kesimpulan yang diciptakannya sendiri. Apalagi sebelum mendengar
penjelasan pasti dari narasumber yaitu Mohamad Sanusi yang merupakan anggota
DPRD DKI Frksi GERINDRA. Sebelum menjawab pertanyaan yang ditanyakan oleh
Najwa, Najwa sudah mengucapkan kata “plin-plan” yang ditujukan pada partai
Gerindra. Itu termasuk ke salah satu kesesatan presumsi yang merupakan generalisasi terburu-buru. Atas kesimpulan yang terburu-buru yang
Najwa ucapkan kepada partai Gerindra.
3. 3. Argumen dari Najwa Shihab atau bahan dan
materi yang disampaikan oleh Najwa sudah sangat menyerang dan bahkan bisa
dikatakan tujuannya untuk menghancurkan argumen lawan. Entah para penantang
Ahok atau lawan Ahok. Di sini sebagai host,
Najwa tidak ingin disalahkan dan sangat yakin dengan argumen yang dia punya. Sehingga
cenderung membela Ahok tanpa melihat dari sisi dengan siapa dia berbicara.
Penonton di rumah pasti dapat menyimpulkan bahwa acara ini berat sebelah. Karena
argumen Najwa yang terlalu menyerang lawan bicaranya. Ini termasuk kesesatan
Argumen Bayangan (menyerang, menghancurkan).
Maka, dengan adanya
kesesatan-kesesatan tersebut, masih banyak yang harus diperbaiki dari segi
menjadi seorang host atau
pewawancara. Seharusnya, Najwa bisa bersikap professional dan dapat menerima semua argumen yang disampaikan
narasumber. Sehingga, kesimpulan yang didapat juga murni dari perkataan
narasumber, bukan dari persepsi sendiri. Walaupun sudah ada Undang-Undang
tentang Pers atau Jurnalis, tetapi tetap etika dalam menyampaikan sesuatu dan
menerima pendapat orang lain harus tetap terlaksana dengan baik.
Kesesatan dalam acara Mata Najwa-Para Penantang Ahok
Nama : Vimala Putri Sadewa
Nim : 00000008702
Seorang pembawa acara atau moderator sudah seharusnya
bersikap netral dan tidak mendukung atau pun menyerang suatu pihak. Najwa sudah
terkenal sebagai seorang yang bisa membawa acara dengan sangat baik dan tegas.
Namun, pada acaranya di episode kali ini Najwa terkadang terlihat cenderung
lebih mendukung Ahok.
Dan sangat terlihat sekali pada saat pertanyaan “siapkah menggantikan Ahok” kepada Muhammad Sanusin, Fraksi Gerindra. Kemudian, Sanusin menjawab siap ,dan Najwa langsung tertawa. Sehingga hal tersebut terlihat seperti merendahkan dan menyebabkan kesesatan Hominem yaitu merendahkan pribadi satu pihak.
Lalu, dari pihak penantang Ahok ,yaitu lawan ahok , Bursa Zanudi. Beliau telah melakukan kesesatan ambiguitas pembagian ,yaitu menganggap apa yang berlaku pada suatu kelompok berlaku ke kelompok lain. Hal ini bisa kita lihat pada saat Bursa Zanudi bersikeras menganggap bahwa “Teman Ahok” adalah kelompok yang dibayar oleh Ahok dan bukanlah relawan.
Pada saat bagian teman ahok vs lawan ahok juga Najwa terlihat lebih mendukung teman Ahok dan menyerang lawan Ahok. Hal ini bisa dilihat dari pada saat setiap Teman Ahok menjelaskan ,Najwa langsung percaya begitu saja. Sedangkan pada saat lawan Ahok menjelaskan ,Najwa terlihat beberapa kali menyerang dengan beberapa pertanyaan yang menyudutkan Bursa Zanudi. Padahal ,sebagai seorang pembawa acara Najwa seharusnya lebih bersikap netral dan tidak memihak pihak manapun.
Dan sangat terlihat sekali pada saat pertanyaan “siapkah menggantikan Ahok” kepada Muhammad Sanusin, Fraksi Gerindra. Kemudian, Sanusin menjawab siap ,dan Najwa langsung tertawa. Sehingga hal tersebut terlihat seperti merendahkan dan menyebabkan kesesatan Hominem yaitu merendahkan pribadi satu pihak.
Lalu, dari pihak penantang Ahok ,yaitu lawan ahok , Bursa Zanudi. Beliau telah melakukan kesesatan ambiguitas pembagian ,yaitu menganggap apa yang berlaku pada suatu kelompok berlaku ke kelompok lain. Hal ini bisa kita lihat pada saat Bursa Zanudi bersikeras menganggap bahwa “Teman Ahok” adalah kelompok yang dibayar oleh Ahok dan bukanlah relawan.
Pada saat bagian teman ahok vs lawan ahok juga Najwa terlihat lebih mendukung teman Ahok dan menyerang lawan Ahok. Hal ini bisa dilihat dari pada saat setiap Teman Ahok menjelaskan ,Najwa langsung percaya begitu saja. Sedangkan pada saat lawan Ahok menjelaskan ,Najwa terlihat beberapa kali menyerang dengan beberapa pertanyaan yang menyudutkan Bursa Zanudi. Padahal ,sebagai seorang pembawa acara Najwa seharusnya lebih bersikap netral dan tidak memihak pihak manapun.
Nathanael Felicia Gunawan / 000 0000 8547 (Setelah UTS)
Mata Najwa: Para Penantang Ahok
Najwa Shihab sebagai pembawa acara Mata Najwa adalah seorang pembawa acara yang dianggap cukup kritis dalam mengupas suatu hal yang menjadi perbincangan dengan lawan bicaranya. Pada acara Mata Najwa dengan tema "Para Penantang Ahok", 07 Oktober 2015 lalu, banyak orang yang tidak puas dengan tayangan tersebut.
Najwa dianggap bias membahas pokok persoalan, yang seharusnya ia mengkritisi kinerja Ahok yang banyak mendapat perlawanan publik, tetapi yang banyak dibahas perihal kesantunan bahasa dan etnis Ahok. Najwa dianggap seperti kurang tertarik untuk membahas prosedur kerja Ahok yang banyak mendapat perlawanan dari masyarakat dan lebih mengarah kepada sebuah acara dukungan untuk mempertahankan kekuasaan Ahok dari pada sebuah acara yang kritis.
Tampak keberpihakan Najwa Shihab dalam membawakan acara kali ini, terlihat bahwa Najwa berpihak kepada Ahok. Banyak memang yang ia kritisi dari para penentang Ahok dan calon-calon yang merasa diri mampu menyaingi Ahok, tetapi penonton merasa seperti Najwa pada saat itu tidak ingin mengangkat hal kontradiksi yang dapat menjadikan Ahok mendapat pandangan buruk dari para penonton acara ini.
Najwa dianggap bias membahas pokok persoalan, yang seharusnya ia mengkritisi kinerja Ahok yang banyak mendapat perlawanan publik, tetapi yang banyak dibahas perihal kesantunan bahasa dan etnis Ahok. Najwa dianggap seperti kurang tertarik untuk membahas prosedur kerja Ahok yang banyak mendapat perlawanan dari masyarakat dan lebih mengarah kepada sebuah acara dukungan untuk mempertahankan kekuasaan Ahok dari pada sebuah acara yang kritis.
Tampak keberpihakan Najwa Shihab dalam membawakan acara kali ini, terlihat bahwa Najwa berpihak kepada Ahok. Banyak memang yang ia kritisi dari para penentang Ahok dan calon-calon yang merasa diri mampu menyaingi Ahok, tetapi penonton merasa seperti Najwa pada saat itu tidak ingin mengangkat hal kontradiksi yang dapat menjadikan Ahok mendapat pandangan buruk dari para penonton acara ini.
Mata Najwa – Para Penantang Ahok
Mega Priliani Sanjaya
00000008768
Acara
Mata Najwa ini membahas tentang Ahok selaku Gubernur DKI Jakarta dengan para
penantangnya dan juga kawannya. Untuk mendukung acara ini berjalan lancar,
acara Mata Najwa ini mengundang beberapa pihak seperti Adhyaksa Dault, Bursah
Zamubi dan juga Mohammad Sanusi. Didalam acara ini pula saya melihat adanya
kesesatan dalam tutur kata mereka. Baik Adhyaksa maupun Najwa selaku pembawa
acara. Kesesatan tersebut adalah Ad Hominem.
Dapat
dikatakan Ad Hominem karena dapat kita lihat sebelumnya, Adhyaksa yang tidak
terlalu menyetujui Ahok sebagai Gubernur kecuali jika ia mengganti agamanya
menjadi agama Islam. Ia membuat pernyataan bahwa lebih baik yang menjadi
seorang Gubernur adalah seorang yang beragama Islam atau pribumi sedangkan Ahok
bukan.
Kesesatan
lainnya juga ditemukan dari Najwa sendiri. masih dengan bersifat kesesatan Ad
Hominem, Najwa melakukan kesalahan dengan terus mendorong dan seakan memaksa
Adhyaksa untuk menjawab pertanyaannya. Selain itu juga, ia terlihat sering
memotong pembicaraan Adhyaksa ketika ia
menjawab pertanyaan Najwa dan menekan Adhyaksa untuk hanya menjawab
secara singkat dan jelas pertanyaan yang ia ajukan. Sebenarnya, ia sebagai
pembawa acara tidak boleh melakukan hal seperti itu, karena jika memotong dan
terlihat terlalu mendorong orang dengan pertanyaannya, akan terlihat kurang
sopan.
Mata Najwa- Yolanda Cindy Novenia- 00000008758
CCT
Yolanda Cindy Novenia 00000008758
1.
Argumentum ad Verecundiam
Prasetyo Edi lebih memilih mengikuti ketua
umum PDI Perjuangan dalam memilih calon gubernur.
2.
Argumentum ad Hominem (sirkumstansial)
Adhyaksa Dault menginginkan untuk Ahok
menjadi agama Islam untuk menjadi penerus gubernur Jakarta maupun menjadi calon
Presiden selanjutnya.
3.
Argumen Bayangan
Mata Najwa membingungkan antara
mendukung Ahok ataupun tidaknya. Karena disetiap pembicaraan Mata Najwa memihak
Ahok.
Para Penantang Ahok
Albertus Leo Linardi
00000008530
Mata Najwa Para
Penantang Ahok
Pemilihan
Gubenur DKI Jakarta masih dua tahun lagi namun bursa calon kandidat gubenur sedang
ramai-ramainya . Adhyaksa Dault
merupakan calon kandidat yang diusung oleh banyak ulama di Jakarta
sebagai penantang Gubenur Ahok. Adhyaksa Dault selama perbincangan dengan Najwa
melakukan kesesatan Argumentun ad Hominem yang sirkumstansial karena menyerang
agama / keyakinan dari Gubenur Ahok dan juga melakukan tindakan pengalihan
perhatian karena beliau berbicara berbelit-belit. Sementara itu ada juga salah
satu yang diundah adala Bursah Zarnubi yang mewakili Lawan Ahok. Beliau
melakukan kesesatan Argumentum ad Hominem yang merendahkan. Karena Beliau
menyerang cara bicara Gubenur Ahok yang terbuka.
Sementara
menurut saya Najwa sendiri tidak melakukan kesesatan justru ia melawan
kesesatan pengalih perhatian karena argumen-argumen yang di lontarkan di acara
ini banyak yang tidak sesuai dengan topik.
MATA NAJWA – Viviani Marsela Wijaya 0000000855
Viviani
Marsela Wijaya
00000008558 –
Ilmu Komunikasi Kelas A
MATA NAJWA
Najwa episode para penantang Ahok
pada tanggal 7 Oktober 2015, memperdebatkan seberapa pantaskah para penantang
Ahok menandingi Ahok. Di acara tersebut terlihat jelas bahwa Najwa sebagai tuan
rumah atau presenter telah bersikap memihak kepada Ahok. Terbukti ketika ia
selalu menyela setiap pernyataan yang dilontarkan oleh para penantang Ahok.
Misalnya ketika Mohamad Sanusi menyatakan bahwa: “Pak Ahok tuh maunya ke Gerindra, tapi Gerindranya
gak mau”
Pernyataan ini langsung disela oleh Najwa dengan ketus: “Kok yakin banget Pak Ahok gak mau, Pak Ahok
udah keluar dari Gerindra loh?”
Secara tidak langsung setiap pernyataan dan pertanyaan yang
dilontarkan Najwa telah menyudutkan pihak-pihak penantang Ahok. Hal ini
mengandung kesesatan Argumentum ad Hominem, kesesatan yang menyerang latar
belakang lawan bicara. Najwa terlihat sangat menyerang pernyataan dari para
penantang dan meng-iyakan setiap jawaban dari sahabat Ahok. Najwa tidak semestinya
berbuat demikian, sebagai jurnalis yang baik ia harus bisa bersikap profesional
dan netral.
MATA NAJWA-PARA PENANTANG AHOK
Nama : Yashinta
Mulya Sari
NIM :
00000008623
`PARA
PENANTANG AHOK’
Para Penantang Ahok adalah salah satu topik yang di bahas
oleh Metro TV dalam acaranya yaitu Mata Najwa. Najwa sendiri merupakan pembawa
acaranya. Jika dilihat sekilas, ketika membawakan acara tersebut hingga habis,
Najwa nampak tidak memiliki kesalah dalam pembawaannya berbicara. Namun kita
ketahui sendiri bahwa manusia tidak luput dari kesalahan. Sebab itu kali ini
saya akan membahas beberapa kesalahan yang dibuat oleh seorang Najwa Sihab.
Dalam topik `Para Penantang Ahok’, di sini Najwa agaknya
terlihat lebih cenderung ke arah Ahok. Bukan tanpa alasan, dari cara
berbicaranya juga terlihat nampak ia kurang setuju dengan apa yang di katakan
oleh narasumber. Jika di lihat dari topik bahasan ini, sesungguhnya posisi
pembawa acara diharuskan untuk bersikap netral. Dan mungkin dari pihak Najwa
sendiri juga tidak menyadari kesalahan itu. Pembawaannya terlalu cepat dan
kerap kali memotong pembicaraan narasumber. Pemotongan pembicaraan di lakukan
pasti dengan alasan, entah karena durasi yang mepet maupun dari narasumber
sendiri tidak menjawab pertanyaan yang di berikan dalam arti keluar dari apa
yang ditanyakan. Namun hal seperti itu membuat kami dalam arti penonton kurang
menikmatinya.
Tak kala kesesatan juga di lontarkan oleh pihak Najwa
sendiri. Seperti halnya saat Marko Kusumawijaya mengungkapkan bahwa ia telah
mendeklarasikan untuk menantang ahok lewat media sosial Facebook. Disini
terjadi kesatan Argumentum ad Hominem yakni merendahkan, dimana Najwa berkata
“Karena tidak punya uang yang paling murah karena tidak harus membayar lewat
sosial media.” Kalimat ini mengandung arti bahwa ia menjatuhkan Marko
Kusumawijaya di hadapan publik. Juga pada saat pembicaraan Sanusi mengenai
bahwa Gerindra kemungkinan tidak akan mencalonkan Ahok. Najwa juga sempat
memberikan pernyataan dari Hasyim Jodi Jayakusuma yang berisi bahwa “Pintu
selalu terbuka bagi Pak Ahok, never say never, selalu ada kemungkinan.
Kemungkinan partainya akan mengusung Basuki Cahya Purnama”. Dari pernyataan
yang di ucapkan oleh Najwa ini, memberi kesan bahwa seolah-olah Sanusi itu plin
plan dan saat itu lah terdapat kesesatan Argumentum ad Hominem Merendahkan.
Otomatis dari percakapan tersebut, orang akan berpendapat bahwa kandidat-kandidat
ini kurang baik.
Di pembahasan dengan Prasetyo Edi Marsudi mengenai bahwa
Ahok itu `Bandel’ juga terdapat kesesatan Argumentum ad Hominem Sirkumstansial.
Waktu itu Najwa menanggapinya dengan berkata bahwa bukannya Jakarta membutuhkan
seorang yang bandel agar tidak ikut penjahat. Di sini Najwa bukan menyerang pernyataan Pras, tetapi ia seakan menyerang hubungan antara pembuat pernyataan (Pras)
dan lingkungannya. Ini seolah-olah
mengatakan bahwa Najwa ingin Ahok-lah yang ingin menjadi pemimpin Jakarta.
Selain itu juga dalam acara tersebut terdapat kesesatan
Argumentum ad Baculum. Pada saat itu Bursa Zanudi mengatakan bahwa gerakan
lawan Ahok adalah gerakan moral bukan gerakan pengkritik. Dan Najwa seketika
itu berbiacara seolah mengancam agar Bursa Zanudi tidak akan maju, karena jika
maju, konsekuensinya aka menanggung malu karena telah di tonton oleh banyak
orang. Kaliamat Najwa yakni “Jadi ga akan maju ya? Bener? Entar berubah? Bener
ya? Banyak yang nonton lho ini.” Secara tidak sadar, kalimat yang di ucapkan
oleh Najwa merupakan sebuah ancaman bagi Bursa Zainudin
Itulah beberpa kesalahan maupun kesesatan yang bisa di
ketahui dari topik ini. Kesalahan bisa terjadi kapan, di mana, oleh siapa saja,
bahkan dengan orang yang sudah berpengalaman pun juga bisa melakukan kesalahan.
Namun ada baiknya kita meminimalisir kesalahan tersebut.
Langganan:
Postingan (Atom)