Samuel Indra Wijaya
00000008470
Mata Najwa Eps. Para
Penantang AHOK
Pada pertanyaan Najwa Shihab
kepada Adhiyaksa Dault tentang dirinya yang di daulat oleh banyak tokoh dan
dicalonkan sebagai calon walikota DKI Jakarta dan sekaligus menjadi salah satu lawan
dari Ahok, apakah dirinya lebih pantas menjadi walikota dibanding seorang Ahok
pada pilkada periode mendatang. Namun dialihkan oleh Adhiyaksa ke pembicaraan
lain, mengenai banyaknya dukungan yang ia terima dari parah tokoh masyarakat.
Dan kesesatan selanjutnya dari
seorang Najwa, yaitu saat dirinya berpikir bahwa PDI Perjuangan tidak modern
karena partai modern tidak bergantung pada satu keputusan, seharusnya partai
modern itu adalah partai yang mengutamakan musyawarah dan mufakat dari semua
pihak di dalam partai. Dan juga Najwa memberikan pertanyaan kepada Prasetyo
Adi, bahwa sebenarnya PDI Perjuangan mendukung Ahok atau tidak mendukung? Najwa
memberikan kesan tidak benar terhadap pihak yang melawan Ahok.
Jadi menurut saya, Najwa memiliki
beberapa kesesatan yaitu kesesatan Red Herring,
Ad Hominem dan juga kesesatan False Dilemma. Dikatakan Red Herring
karena Adhiyaksa mengalihkan pembicaraan. False dilemma dikatakan karena Najwa
menganggap PDI Perjuangan adalah partai yang tidak modern karena tidak bisa
memutuskan ingin mendukung Ahok atau tidak mendukung, disini disebut False
Dilemma karena berada pada dua keputusan dan Najwa tidak mengambil jalur
alternatif selain dari dua pertanyaan itu, dan Najwa langsung menyimpulkan
bahwa PDIP bukan partai yang modern. Dan disebut Ad Hominem karena Najwa pada
saat itu terlihat mendukung Ahok, dan memberikan penyerangan terhadap
narasumbernya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar