Minggu, 06 Desember 2015

MATA NAJWA-PARA PENANTANG AHOK



Nama    : Yashinta Mulya Sari
NIM    : 00000008623

`PARA PENANTANG AHOK’
            Para Penantang Ahok adalah salah satu topik yang di bahas oleh Metro TV dalam acaranya yaitu Mata Najwa. Najwa sendiri merupakan pembawa acaranya. Jika dilihat sekilas, ketika membawakan acara tersebut hingga habis, Najwa nampak tidak memiliki kesalah dalam pembawaannya berbicara. Namun kita ketahui sendiri bahwa manusia tidak luput dari kesalahan. Sebab itu kali ini saya akan membahas beberapa kesalahan yang dibuat oleh seorang Najwa Sihab.
            Dalam topik `Para Penantang Ahok’, di sini Najwa agaknya terlihat lebih cenderung ke arah Ahok. Bukan tanpa alasan, dari cara berbicaranya juga terlihat nampak ia kurang setuju dengan apa yang di katakan oleh narasumber. Jika di lihat dari topik bahasan ini, sesungguhnya posisi pembawa acara diharuskan untuk bersikap netral. Dan mungkin dari pihak Najwa sendiri juga tidak menyadari kesalahan itu. Pembawaannya terlalu cepat dan kerap kali memotong pembicaraan narasumber. Pemotongan pembicaraan di lakukan pasti dengan alasan, entah karena durasi yang mepet maupun dari narasumber sendiri tidak menjawab pertanyaan yang di berikan dalam arti keluar dari apa yang ditanyakan. Namun hal seperti itu membuat kami dalam arti penonton kurang menikmatinya.
            Tak kala kesesatan juga di lontarkan oleh pihak Najwa sendiri. Seperti halnya saat Marko Kusumawijaya mengungkapkan bahwa ia telah mendeklarasikan untuk menantang ahok lewat media sosial Facebook. Disini terjadi kesatan Argumentum ad Hominem yakni merendahkan, dimana Najwa berkata “Karena tidak punya uang yang paling murah karena tidak harus membayar lewat sosial media.” Kalimat ini mengandung arti bahwa ia menjatuhkan Marko Kusumawijaya di hadapan publik. Juga pada saat pembicaraan Sanusi mengenai bahwa Gerindra kemungkinan tidak akan mencalonkan Ahok. Najwa juga sempat memberikan pernyataan dari Hasyim Jodi Jayakusuma yang berisi bahwa “Pintu selalu terbuka bagi Pak Ahok, never say never, selalu ada kemungkinan. Kemungkinan partainya akan mengusung Basuki Cahya Purnama”. Dari pernyataan yang di ucapkan oleh Najwa ini, memberi kesan bahwa seolah-olah Sanusi itu plin plan dan saat itu lah terdapat kesesatan Argumentum ad Hominem Merendahkan. Otomatis dari percakapan tersebut, orang akan berpendapat bahwa kandidat-kandidat ini kurang  baik.
            Di pembahasan dengan Prasetyo Edi Marsudi mengenai bahwa Ahok itu `Bandel’ juga terdapat kesesatan Argumentum ad Hominem Sirkumstansial. Waktu itu Najwa menanggapinya dengan berkata bahwa bukannya Jakarta membutuhkan seorang yang bandel agar tidak ikut penjahat. Di sini Najwa bukan menyerang pernyataan Pras, tetapi ia seakan menyerang hubungan antara pembuat pernyataan (Pras) dan lingkungannya. Ini seolah-olah mengatakan bahwa Najwa ingin Ahok-lah yang ingin menjadi pemimpin Jakarta.
            Selain itu juga dalam acara tersebut terdapat kesesatan Argumentum ad Baculum. Pada saat itu Bursa Zanudi mengatakan bahwa gerakan lawan Ahok adalah gerakan moral bukan gerakan pengkritik. Dan Najwa seketika itu berbiacara seolah mengancam agar Bursa Zanudi tidak akan maju, karena jika maju, konsekuensinya aka menanggung malu karena telah di tonton oleh banyak orang. Kaliamat Najwa yakni “Jadi ga akan maju ya? Bener? Entar berubah? Bener ya? Banyak yang nonton lho ini.” Secara tidak sadar, kalimat yang di ucapkan oleh Najwa merupakan sebuah ancaman bagi Bursa Zainudin
            Itulah beberpa kesalahan maupun kesesatan yang bisa di ketahui dari topik ini. Kesalahan bisa terjadi kapan, di mana, oleh siapa saja, bahkan dengan orang yang sudah berpengalaman pun juga bisa melakukan kesalahan. Namun ada baiknya kita meminimalisir kesalahan tersebut.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar