Nama : Yashinta
Mulya Sari
NIM :
00000008623
`PARA
PENANTANG AHOK’
Para Penantang Ahok adalah salah satu topik yang di bahas
oleh Metro TV dalam acaranya yaitu Mata Najwa. Najwa sendiri merupakan pembawa
acaranya. Jika dilihat sekilas, ketika membawakan acara tersebut hingga habis,
Najwa nampak tidak memiliki kesalah dalam pembawaannya berbicara. Namun kita
ketahui sendiri bahwa manusia tidak luput dari kesalahan. Sebab itu kali ini
saya akan membahas beberapa kesalahan yang dibuat oleh seorang Najwa Sihab.
Dalam topik `Para Penantang Ahok’, di sini Najwa agaknya
terlihat lebih cenderung ke arah Ahok. Bukan tanpa alasan, dari cara
berbicaranya juga terlihat nampak ia kurang setuju dengan apa yang di katakan
oleh narasumber. Jika di lihat dari topik bahasan ini, sesungguhnya posisi
pembawa acara diharuskan untuk bersikap netral. Dan mungkin dari pihak Najwa
sendiri juga tidak menyadari kesalahan itu. Pembawaannya terlalu cepat dan
kerap kali memotong pembicaraan narasumber. Pemotongan pembicaraan di lakukan
pasti dengan alasan, entah karena durasi yang mepet maupun dari narasumber
sendiri tidak menjawab pertanyaan yang di berikan dalam arti keluar dari apa
yang ditanyakan. Namun hal seperti itu membuat kami dalam arti penonton kurang
menikmatinya.
Tak kala kesesatan juga di lontarkan oleh pihak Najwa
sendiri. Seperti halnya saat Marko Kusumawijaya mengungkapkan bahwa ia telah
mendeklarasikan untuk menantang ahok lewat media sosial Facebook. Disini
terjadi kesatan Argumentum ad Hominem yakni merendahkan, dimana Najwa berkata
“Karena tidak punya uang yang paling murah karena tidak harus membayar lewat
sosial media.” Kalimat ini mengandung arti bahwa ia menjatuhkan Marko
Kusumawijaya di hadapan publik. Juga pada saat pembicaraan Sanusi mengenai
bahwa Gerindra kemungkinan tidak akan mencalonkan Ahok. Najwa juga sempat
memberikan pernyataan dari Hasyim Jodi Jayakusuma yang berisi bahwa “Pintu
selalu terbuka bagi Pak Ahok, never say never, selalu ada kemungkinan.
Kemungkinan partainya akan mengusung Basuki Cahya Purnama”. Dari pernyataan
yang di ucapkan oleh Najwa ini, memberi kesan bahwa seolah-olah Sanusi itu plin
plan dan saat itu lah terdapat kesesatan Argumentum ad Hominem Merendahkan.
Otomatis dari percakapan tersebut, orang akan berpendapat bahwa kandidat-kandidat
ini kurang baik.
Di pembahasan dengan Prasetyo Edi Marsudi mengenai bahwa
Ahok itu `Bandel’ juga terdapat kesesatan Argumentum ad Hominem Sirkumstansial.
Waktu itu Najwa menanggapinya dengan berkata bahwa bukannya Jakarta membutuhkan
seorang yang bandel agar tidak ikut penjahat. Di sini Najwa bukan menyerang pernyataan Pras, tetapi ia seakan menyerang hubungan antara pembuat pernyataan (Pras)
dan lingkungannya. Ini seolah-olah
mengatakan bahwa Najwa ingin Ahok-lah yang ingin menjadi pemimpin Jakarta.
Selain itu juga dalam acara tersebut terdapat kesesatan
Argumentum ad Baculum. Pada saat itu Bursa Zanudi mengatakan bahwa gerakan
lawan Ahok adalah gerakan moral bukan gerakan pengkritik. Dan Najwa seketika
itu berbiacara seolah mengancam agar Bursa Zanudi tidak akan maju, karena jika
maju, konsekuensinya aka menanggung malu karena telah di tonton oleh banyak
orang. Kaliamat Najwa yakni “Jadi ga akan maju ya? Bener? Entar berubah? Bener
ya? Banyak yang nonton lho ini.” Secara tidak sadar, kalimat yang di ucapkan
oleh Najwa merupakan sebuah ancaman bagi Bursa Zainudin
Itulah beberpa kesalahan maupun kesesatan yang bisa di
ketahui dari topik ini. Kesalahan bisa terjadi kapan, di mana, oleh siapa saja,
bahkan dengan orang yang sudah berpengalaman pun juga bisa melakukan kesalahan.
Namun ada baiknya kita meminimalisir kesalahan tersebut.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar