Rabu, 23 September 2015

Alexsandra E.W.

Alexsandra Ekhe Wahyu
00000008853

First Meeting..
CRITICAL & CREATIVE THINKING
            Hal-hal penting (konsep, pemahaman, pemikiran) yang diulas dalam pertemuan
ini adalah tentang suatu keterampilan (skill) berpikir seseorang pada jurusan ilmu
komunikasi yang sudah pasti akan berhubungan dengan multimedia dan teknologi yang
ada.Dijelaskan juga tentang apa itu Levels of Learning yaitu berupa tata urutan belajar
seseorang untuk menciptakan sesuatu yang baru. Ada tingkatan untuk mendukung suatu
pikiran ataugagasan yaitu remembering dan understanding, jadi sebelum kita membuat
sesuatu, kitaharus mengingat dulu materi-materi yang ada dan mengerti materi-materi
tersebut sehinggatidak dihafal saja. Ada tingkatan untuk mengeksplor / menggali lebih dalam
sesuatu yaituapplying dan analyzing, dimana kita harus menerapkan ilmu yang kita dapat itu
pada kehidupan dan menganalisa lebih dalam hal-hal yang kita terima (baik/buruknya).
Lalu ada tingkatan akhir untuk merancang desain yang sudah terencana yaitu evaluating
Dan creating, dimana kita memeriksa lagi agar tidak ada yang terlewat atau kurang apa lagi
salah, lalu membuat sesuatu yang baru dari semua materi yang sudah matang tersebut.
           
        Dalam pertemuan tersebut juga dijelaskan bedanya Critical dan Creative. Dimana
critical Dalam pertemuan tersebut juga dijelaskan bedanya Critical dan Creative. Dimana
critical pikiran yang keluar dari zona kenyamanan yang nantinya menghasilkan imajinasi.
Dari imajinasi yang kuat itulah menghasilkan pikiran kreatif. Maka critical dan creative
adalah dua hal yang saling berhubungan dan saling melengkapi.

       Hal-hal yang menarik dan penting bagi kami sebagai mahasiswa adalah dengan
adanya materi mengenai critical and creative thinking ini, mahasiswa diharapkan dapat
menjadi orang yang kritis dalam menghadapi suatu masalah atau dalam menerima suatu
informasi. Bukan menjadi orang yang keluar dari jalurnya, hanya saja harus lebih teliti dan
memastikan bahwa informasi itu benar adanya, tidak terpengaruh dunia luar yang selalu
mengikuti arus. Dari pikiran kritis tersebut terciptalah pikiran-pikiran kreatif yang akan
membantu kami untuk membuat sesuatu yang baru melalu 6 tahap belajar tersebut yang
dimana sekarang sebagai mahasiswa baru ingin memasuki pada tahap ke-3 yaitu applying.
Hal-hal ini menarik karena mahasiswa bukanlah lagi siswa SMA yang masih harus
menerima materi bulat-bulat tanpa mengetahui kebenarannya. Karena bersikap kritis itulah
yang menjadi nilai lebih mahasiswa untuk dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari dan
siap untuk menghadapi masalah-masalah yang ada di generasi sekarang ini.

Pertemuaan Ke-Dua
1.      Hal-hal penting dalam pertemuan ke-2 ini adalah cara membedakan antara seseorang
yang berpikir kritis dan seseorang yang tidak berpikir kritis. Banyak cara menilai seseorang
yang kritis atau tidak. Misalnya dengan cara 5W+1H pada suatu kejadian, namun
hanya how dan why saja yang dianggap tidak subjektif.  Jadi ditemukanlah kategori-kategori
pertanyaan yang mempermudah untuk dapat membedakan mana pikiran kritis dan mana yang
tidak. Ada Questions of Classification, questions about assumptions, reasons and evidence,
viewpoints and perspectives, implications and consequence. Dengan pertanyaan-pertanyaan
yang masuk ke dalam kategori tersebut,  kami dapat menyimpulkan mana yang merupakan
pikiran kritis mana yang tidak. Lalu dijelaskan juga mengenai perbedaan antara alasan yang
merupakan bukti dan fakta , dan ada juga alasan yang berupa penjelasan.
2.       Hal-hal yang menarik dalam pertemuan bagi mahasiswa/i adalah dalam konteks ini
kami diajak untuk berpikir kritis dan mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan yang ada
dalam segi apapun. Lalu bisa juga membedakan mana yang termasuk pikiran kritis dan mana
yang bukan termasuk pikiran kritis. Sehingga mampu mengatasi masalah-masalah yang ada
pada suatu informasi atau peristiwa. Tetap pada jalurnya yaitu kritis yang membangun bukan
yang keluar dari topik.

PERTEMUAN KE-TIGA

1. Konsep yang diajarkan pada pertemuan ketiga adalah pengetahuan tentang konsep yang
 berhubungan dengan critical thinking. Lalu juga perbedaan antara kalimat biasa dan suatu 
pernyataan. Apabila kalimat biasa adalah kalimat yang tidak mengandung nilai dan tidak
dapat diperdebatkan (biasanya kalimat perintah). Berbeda dengan suatu pernyataan yang 
biasanya mengandung nilai. Beda juga dengan argumen yang bisa diperdebatkan dan
biasanya kalimatnya secara tidak langsung meminta penerima kalimat itu untuk percaya pada 
kalimat tersebut (persuasif). Lalu ada juga perbedaan antara fakta dan opini. Fakta adalah 
sesuatu pernyataan yang dapat dibuktikan, opini adalah sesuatu pendapat yang menjurus 
ke arah lebih subjektif.

2. Dari pelajaran tersebut yang berguna bagi Mahasiswa adalah Mahasiswa jadi mengetahui
kapan harus menggunakan suatu pernyataan, kalimat biasa, dan argumen. Juga dapat 
mengetahui penempatan suatu fakta dan opini. Dalam pemikiran kritis Mahasiswa diharapkan
dapat membedakan kalimat-kalimat tersebut. Sehingga membantu Mahasiswa/i menanggapi 
suatu hal dan menganalisa suatu informasi. Sebagai mahasiswa/i ilmu komunikasi terutama ju
rnalis harus terbiasa dengan penggunaan kalimat-kalimat tersebut. Sehingga dapat 
mengolahnya lebih baik menjadi suatu sajian informasi yang baik dan terpercaya.

URGENSI - RELEVANSI DENGAN ILMU KOMUNIKASI

1. Urgensinya bagi mahasiswa ilmu komunikasi untuk belajar berpikir kritis dan kreatif 
adalah agar mahasiswa ilmu komunikasi semakin harinya mampu membedakan mana
informasi yang baik dan mampu dipercaya dan mana informasi yang hanya menarik
perhatian saja. Karena belajar ilmu komunikasi sama saja menyampaikan informasi
-informasi dunia dengan baik dan benar. Tentu sangatlah penting bagi mahasiswa/
ilmu komunikasi  mengetahui lebih dalam tentang berpikir kritis dan kreatif.

2.Relevansinya antara kemampuan berpikir kritis dan kreatif dengan profesi dalam 
ilmu komunikasi seperti journalist atau public relation adalah sebagai journalist tentunya 
tugas paling utama adalah menyajikan berita/informasi yang tepat dan akurat untuk
 pendengarnya.Maka dibutuhkan ketelitian untuk memilih informasi mana yang akan 
disajikan dan mana yang akan dibuang. Karena tidak semua informasi yang didapat itu adalah 
informasi yang benar. Maka dibutuhkan keterampilan berpikir kritis dan juga kreatif dalam 
merangkai kata-kata untuk disajikan.Bila menjadi seorang public relation maka
yang harus dilakukan adalah melihat data-data dan informasi perusahaan agar 
fakta-fakta yang ada dapat tersampaikan dengan baik dan juga mampu menarik perhatian
massa atau para pemegang saham yang lain. 

Pertemuan Ke-Empat

Pertayaan Refleksi
1. Materi yang telah dipelajari pada pertemuan keempat adalah masih soal
perbedaan-perbedaan pernyataan. Pernyataan empiris atau faktual,
pernyataan analitik, dan pernyataan evaluatif. Perbedaan dapat terlihat
dari makna dari kalimat itu sendiri. Terutama pernyataan analitik dan
empiris yang kadang sulit untuk dibedakan apabila dilihat dari definisi nya.

2. Hal yang penting bagi mahasiswa/i tentang konsep ini adalah bisa
membedakan mana pernyataan yang dapat dipercaya dan mana yang tidak.
Mana pernyataan yang bisa dibuktikan secara langsung dan mana yang
harus melalui proses penelitian / harus dianalisa terlebih dahulu. Karena
dengan mengetahui perbedaan dari jenis-jenis pernyataan tersebut, mahasiswa/I dapat
mengetahui kebenarannya. Lebih mudah memilah informasi-informasi yang ada.

Berita Kritis

1. Pernyataan empiris atau faktual
Contoh : Pemerintahan Presiden Jokowi melalui Kementerian Pekerjaan Umum dan
Perumahan Rakyat (PUPR) melanjutkan program pembangunan waduk di tahun ke dua
pemerintahannya. Tahun 2016 ini, ada 8 waduk baru yang akan dibangun dan merupakan
bagian dari rencana pembangunan 49 waduk selama 5 tahun hingga 2019.

( http://finance.detik.com/read/2015/09/26/110704/3028601/4/jokowi-bangun-8-waduk-rp-86-triliun-di-2016 )

Pernyataan empiris atau faktual itu menurut saya adalah pernyataan yang dapat dibuktikan
kebenarannya dengan panca indera. Pernyataan tersebut dapat dibuktikan dengan analisa dan
pengamatan-pengamatan yang ada.

2. Pernyataan analytic
Contoh: Bagi kamu para Directioners, pasti gak mau melewatkan kabar terbaru dari grup vokal besutan X-Factor ini kan? Psst, Showbiz punya informasi terbarunya nih untuk kamu. Bukan
hanya satu, loh, tetapi empat berita sekaligus!

( http://indonesiashow.biz/4-fakta-tentang-album-terbaru-one-direction/ )

Pernyataan analytic itu menurut saya adalah pernyataan yang dimana tergantung kata-kata
yang ada di dalam pernyataan tersebut. Pernyataan tersebut sudah mengandung kebenaran
yang tertanam dalam pikiran orang banyak (teoristis). Tidak perlu dibuktikan lagi
kebenarannya dengan pengamatan / analisa-analisa lainnya.

3. Pernyataan evaluative
Contoh : Ivan Gunawan dan Cita Citaa sempat berhubungan sangat dekat hingga sempat
dikabarkan pacaran. Namun, keduanya harus menjauh ketika Ivan disomasi mantan suami
Cita. Kini, setelah masalah dengan mantan suaminya selesai Cita kembali dekat dengan Ivan.
Keduanya menegaskan bahwa hubungan mereka hanya sebatas teman dekat.

( http://hot.detik.com/read/2015/09/26/112958/3028613/230/soal-cita-citata-ivan-gunawan-kita-masih-sebatas-teman-dekat )
Pernyataan evaluative adalah pernyataan yang mengandung nilai subjektif dari penglihatnya.
Nilai yang terkandung dalam pernyataan tersebut berbeda-beda tergantung penilaian dari
penglihatnya. Sama saja seperti opini atau pendapat seseorang jadi tidak semua orang setuju.
Five Meeting
Materi yang didapat adalah mengenai cara mengidentifikasi suatu berita atau
informasi yang diberikan dengan metode 8 langkah. Kedelapan langkah tersebut antara lain
adalah mengenali masalah, menemukan cara-cara untuk menangani masalah, mengumpulkan
dan menyusun informasi yang diperlukan, mengenali asumsi, menggunakan bahasa yang
tepat, mengevaluasi data, fakta, dan pernyataan, mencermati hubungan logis, dan menarik
kesimpulan. Melalui berita yang ada, apa yang ada diberita tersebut harus mengandung 8
langkah tersebut. Mahasiswa/i juga diajarkan mana berita yang faktual deskriptif dan mana
yang opini deskriptif. Berita yang ada pada pertemuan kelima merupakan contoh opini
deskriptif dimana sang penulis cenderung memihak dan tidak objektif. Dalam penulisan
berita tersebut , penulis banyak memasukkan opini nya yang berat sebelah dan tidak
melingkupi masalah keseluruhan. Hanya melihat dari satu sisi saja.

Melalui pertemuan kelima ini, mahasiswa/i dapat lebih mudah mencerna berita dan
informasi yang mereka temukan. Tidak hanya dicerna, namun dapat dikritisi isi dari berita
tersebut. Melalui 8 langkah yang diberikan, maka mahasiswa/i dapat mengerti inti masalah
dari berita tersebut dan bagaimana solusi yang harus diberikan agar masalah terselesaikan.
Serta mahasiswa/i dapat menyimpulkan apakah berita itu termasuk faktual deskriptif atau
opini deskriptif. Tentunya dari penilaian 8 langkah yang mereka temukan dalam berita atau
informasi tersebut. Sehingga dalam dunia perkuliahan sudah pasti mahasiswa/i lebih kritis
menanggapi dan menerima berita dan informasi yang ada.

Six Meeting
Materi yang telah dipelajari pada pertemuan keempat adalah masih soal perbedaan-
perbedaan pernyataan. Pernyataan empiris atau faktual, pernyataan analitik, dan pernyataan
evaluatif. Perbedaan dapat terlihat dari makna dari kalimat itu sendiri. Terutama pernyataan
analitik dan empiris yang kadang sulit untuk dibedakan apabila dilihat dari definisi nya.

Hal yang penting bagi mahasiswa/i tentang konsep ini adalah bisa membedakan mana
pernyataan yang dapat dipercaya dan mana yang tidak. Mana pernyataan yang bisa
dibuktikan secara langsung dan mana yang harus melalui proses penelitian / harus dianalisa
terlebih dahulu. Karena dengan mengetahui perbedaan dari jenis-jenis pernyataan tersebut,
mahasiswa/I dapat mengetahui kebenarannya. Lebih mudah memilah informasi-informasi
yang ada.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar